Bagian cukup mendasar dalam filsafat al-Hikmah
al-Muta’aliyyah adalah pembicaraan tentang jiwa. Mulla Sadra secara khusus
menulis tentang persoalan ini dalam satu jilid penuh dari karyanya al-Hikmah
al-Muta’aliyyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba’ah pada jilid ke delapan. Hal
ini dapat dipahami mengingat bahwa proses perjalanan yang terjadi pada manusia
adalah proses perjalannan jiwa dan hal ini juga menjadi dasar dalam pembicaraan
tentang al-Mabda’ wa al-Ma’ad.
Tulisan ini mencoba untuk merumuskan pandangan Mulla
Sadra berkaitan dengan jiwa.
Argumentasi adanya Jiwa
Jiwa merupakan gambaran dari “Substansi yang secara zatnya non-materi akan tetapi terikat dengan materi dalam aktivitasnya”
Mulla Sadra memberikan bukti bagi keberadaan jiwa dengan mengemukakan tiga bentuk argumentasi ;
Jiwa merupakan gambaran dari “Substansi yang secara zatnya non-materi akan tetapi terikat dengan materi dalam aktivitasnya”
Mulla Sadra memberikan bukti bagi keberadaan jiwa dengan mengemukakan tiga bentuk argumentasi ;
Wujud mumkin yang paling utama dan tidak adanya
kesia-siaan dalam penciptaan wujud mumkin ( Imkan al-Asryaf wa ‘Adam Abatsiah
Khalq al-Mumkinat) .
Mulla Sadra dengan argumentasi ini ingin menunjukkan bahwa Allah SWT ketika menciptakan makhluk-makhluknya memulai dari penciptaan zat yang paling utama dan paling sempurna. Zat pertama karena kedekatannya dengan sumber penciptaan dan merupakan ciptaan pertama, maka kualitas dirinya menjadi tidak terbatas. Zat berikutnya memiliki kesamaan dengan yang pertama dalam kesempurnaan meskipun secara kualitas berada dibawah tingkat yang pertama dan demikian seterusnya sampai pada tingkat yang paling rendah yaitu wujud mumkin yang berada pada batasan aktualisasi potensi menjadi aktual dan memunculkan bentuk-bentuk kehidupan serta memunculkan efek-efek instinktif yang menuntun makhluk tersebut dalam level kehidupannya untuk terus berlanjut pada tujuan utama kehidupannya. Wujud yang berada pada tingkat ini yang mengeluarkan potensi menjadi aksi itulah yang disebut dengan jiwa. Unsur-unsur materi yang terwujud hanya memiliki potensi reseptif untuk menerima jiwa. Proses aktualisasi potensi menjadi aksi merupakan proses penyempurnaan setiap bentuk wujud menunjukkan tidak adanya kesia-siaan dari setiap bentuk wujud dan hal ini hanya mungkin terjadi jika pada wujud mumkin tersebut terdapat elemen yang menggerakkan aktualisasi dan elemen tersebut tidak lain adalah jiwa.
Mulla Sadra dengan argumentasi ini ingin menunjukkan bahwa Allah SWT ketika menciptakan makhluk-makhluknya memulai dari penciptaan zat yang paling utama dan paling sempurna. Zat pertama karena kedekatannya dengan sumber penciptaan dan merupakan ciptaan pertama, maka kualitas dirinya menjadi tidak terbatas. Zat berikutnya memiliki kesamaan dengan yang pertama dalam kesempurnaan meskipun secara kualitas berada dibawah tingkat yang pertama dan demikian seterusnya sampai pada tingkat yang paling rendah yaitu wujud mumkin yang berada pada batasan aktualisasi potensi menjadi aktual dan memunculkan bentuk-bentuk kehidupan serta memunculkan efek-efek instinktif yang menuntun makhluk tersebut dalam level kehidupannya untuk terus berlanjut pada tujuan utama kehidupannya. Wujud yang berada pada tingkat ini yang mengeluarkan potensi menjadi aksi itulah yang disebut dengan jiwa. Unsur-unsur materi yang terwujud hanya memiliki potensi reseptif untuk menerima jiwa. Proses aktualisasi potensi menjadi aksi merupakan proses penyempurnaan setiap bentuk wujud menunjukkan tidak adanya kesia-siaan dari setiap bentuk wujud dan hal ini hanya mungkin terjadi jika pada wujud mumkin tersebut terdapat elemen yang menggerakkan aktualisasi dan elemen tersebut tidak lain adalah jiwa.
Munculnya efek dari materi ( Sudur al-Atsar an
al-Ajsam).
Argumentasi ini di dasarkan pada efek yang muncul dari forma-forma materi tanpa adanya intervensi luar maupun keinginan untuk menghadirkannya. Sebagai contoh ; apa yang terjadi pada indra, bahwa indra mempersepsi apa yang ada disekitarnya dengan sendirinya, atau gerakan yang terjadi, perkembangan maupun pertumbuhan atau melahirkan jenis yang semisal dengan dirinya. Bagi Mulla Sadra hal ini tidak mungkin hadir dari materi sekalipun materi pertama, karena materi utama hanyalah sebagai reseptif secara mutlak tanpa adanya kemungkinan baginya untuk melakukan aktivitas apalagi mengeluarkan efek. Karenanya bagi Mulla Sadra efek-efek yang terjadi pada bentuk materi diatas pastilah berasal dari sesuatu yang lain selain dari materi dan itulah jiwa.
Argumentasi ini di dasarkan pada efek yang muncul dari forma-forma materi tanpa adanya intervensi luar maupun keinginan untuk menghadirkannya. Sebagai contoh ; apa yang terjadi pada indra, bahwa indra mempersepsi apa yang ada disekitarnya dengan sendirinya, atau gerakan yang terjadi, perkembangan maupun pertumbuhan atau melahirkan jenis yang semisal dengan dirinya. Bagi Mulla Sadra hal ini tidak mungkin hadir dari materi sekalipun materi pertama, karena materi utama hanyalah sebagai reseptif secara mutlak tanpa adanya kemungkinan baginya untuk melakukan aktivitas apalagi mengeluarkan efek. Karenanya bagi Mulla Sadra efek-efek yang terjadi pada bentuk materi diatas pastilah berasal dari sesuatu yang lain selain dari materi dan itulah jiwa.
Kehidupan adalah Jiwa (al-Hayah hiya al-Nafs)
Argumentasi ketiga yang dikemukakan Mulla Sadra adalah argumentasi kehidupan. Ketika kita menyaksikan berbagai makhluk memiliki indra dan mempersepsi gambaran sesuatu kita mengetahui bahwa makhluk tersebut hidup. Indra dan kemampuan untuk mempersepsi objek berasal di antara tiga kemungkinan : pertama, sumber utama yaitu jiwa. Kedua, fisik yang memiliki jiwa. Ketiga, fisik.
Argumentasi ketiga yang dikemukakan Mulla Sadra adalah argumentasi kehidupan. Ketika kita menyaksikan berbagai makhluk memiliki indra dan mempersepsi gambaran sesuatu kita mengetahui bahwa makhluk tersebut hidup. Indra dan kemampuan untuk mempersepsi objek berasal di antara tiga kemungkinan : pertama, sumber utama yaitu jiwa. Kedua, fisik yang memiliki jiwa. Ketiga, fisik.
Mulla Sadra menolak dua kemungkinan terakhir karena
menurutnya jika berasal dari fisik yang memiliki jiwa maka bagaimana mungkin
hal tersebut terjadi pada saat yang sama fisik tidak lain merupakan objek yang
dikendalikan jiwa sedangkan kemungkinan bahwa kemampuan untuk mempersepsi hanya
berasal dari fisik semata Mulla Sadra memberikan penjelasan yang lebih dalam,
menurutnya bahwa makna alam semesta, jiwa, kehidupan tidaklah sama, karena
makna semesta tidak lain kecuali sebagai forma fisik yang keberadaannya
didahului oleh forma lain sebagai sumber bagi keberadaan dan kehidupannya.
Mulla Sadra dalam hal ini memberikan contoh perahu yang memberikan manfaat
tertentu akan tetapi manfaat tersebut sangat bergantung kepada kehadiran bentuk
lain yaitu pendayung. Dengan demikian menurut Mulla Sadra forma fisik tertentu
untuk dapat menghasilkan efek memerlukan bentuk yang lain selain dari dirinya
sendiri dan demikian terjadi seterusnya. Kondisi yang seperti ini menurut Mulla
Sadra bertentangan dengan makna kesempurnaan
Substansial Jiwa (Jawhariyy?t al-Nafs)
Di antara sepuluh kategori (Maqalat) dalam pembagian kuiditas yang dikemukakan Mulla Sadra adalah pembagian dasar utama dari kategori tersebut yaitu Substansi dan Aksiden. Substansi merupakan gambaran dari sesuatu yang “Jika ada secara eksternal tidak bergantung pada lokus dan tidak membutuhkannya dalam wujudnya” (Iza wujiddat fi al-Kharij wujidat la fi Maudhu’ mustaghni anha fi wujudihi) sedangkan Aksiden merupakan gambaran dari jika “Ada secara eksternal keberadaannya bergantung pada lokus dan tidak membutuhkannya dalam wujudnya” (Iza wujiddat fi al-Kharij wujidat fi Maudhu’ mustaghni anha fi wujudihi).
Di antara sepuluh kategori (Maqalat) dalam pembagian kuiditas yang dikemukakan Mulla Sadra adalah pembagian dasar utama dari kategori tersebut yaitu Substansi dan Aksiden. Substansi merupakan gambaran dari sesuatu yang “Jika ada secara eksternal tidak bergantung pada lokus dan tidak membutuhkannya dalam wujudnya” (Iza wujiddat fi al-Kharij wujidat la fi Maudhu’ mustaghni anha fi wujudihi) sedangkan Aksiden merupakan gambaran dari jika “Ada secara eksternal keberadaannya bergantung pada lokus dan tidak membutuhkannya dalam wujudnya” (Iza wujiddat fi al-Kharij wujidat fi Maudhu’ mustaghni anha fi wujudihi).
Keberadaan substansi adalah keberadaan yang independen
dalam pengertian bahwa keberadaannya di luar tidaklah menempel atau bergantung
kepada keberadaan yang lain bahkan dirinya menjadi lokus bagi keberadaan
aksiden, sedangkan genus yang ada di atasnya adalah sesuatu yang tidak mungkin
lagi didefinisikan, substansi merupakan bagian tertinggi dari rangkaian genus
yang dapat diketahui. Persoalan kemudian apakah jiwa merupakan substansi
ataukah masuk dalam kategori aksiden, jika jiwa masuk dalam kategori aksiden
maka ada sesuatu yang lain yang menjadi hakikat diri manusia sebagai lokus bagi
raga manusia. Beberapa argumentasi berikut memberikan bukti akan substansial
jiwa, diantara argumentasi tersebut antara lain :
1. Beragam efek yang keluar seperti tumbuh, bergerak
dan sebagainya dari beragam makhluk, baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia
bukanlah disebabkan oleh sesuatu yang berada diluar dirinya akan tetapi berasal
dari diri makhluk tersebut sendiri. Diri yang dimaksud bukanlah raga materi
karena jika demikian maka seluruh raga akan mengeluarkan efek eksternal
karenanya bahwa sumber efek tersebut tidak lain adalah jiwa. Segala bentuk yang
menjadi lokus dan sandaran bagi sesuatu maka sesuatu tersebut adalah substansi,
karenanya jiwa sebagai lokus bagi beragam efek tersebut pastilah substansi.
2. Mulla Sadra membuktikan substansial jiwa melalui
ilmu huduri. Penjelasan tentang hal tersebut sebagai berikut : Persepsi
terhadap sesuatu adalah sampainya forma objek pada diri subjek. Jika subjek
mempersepsi dirinya sendiri maka pastilah ketika persepsi tersebut terjadi, dia
tidak membutuhkan ruang tertentu (sebagai media bagi munculnya diri sebagai
objek persepsi) akan tetapi berdiri pada dirinya sendiri. Jika persepsi terjadi
pada ruang tertentu maka forma dirinya tidak akan hadir pada dirinya sendiri
akan tetapi hadir pada ruang tersebut karena keberadaan objek yang menempati
pasti selalu terikat pada ruang yang ditempati dan ini bertentangan dengan apa
yang telah ditetapkan.
Persepsi terhadap diri sendiri adalah persepsi yang
tidak akan pernah lepas dari diri seseorang sedangkan kesadaran terhadap
kesadaran atau pengetahuan diri yang dimiliki dapat saja terlupakan pada saat
tertentu karena pengetahuan terhadap keberadaan pengetahuan tersebut bukanlah
wujud diri itu sendiri hal tersebut sama dengan persepsi subjek terhadap
objek-objek eksternal yang lain. Dengan argumentasi ini Mulla Sadra membuktikan bahwa
keberadaan jiwa tidaklah menempel pada sesuatu yang lain akan tetapi pada
dirinya sendiri.
c. Jiwa dalam kebaharuannya sebagai jasmani dan
keabadiannya sebagai ruhani (Nafs al-jasmaniyah al-Huduts ruhaniyyah al-Baqi’).
c. Jiwa dalam kebaharuannya sebagai jasmani dan keabadiannya sebagai ruhani (Nafs al-jasmaniyah al-Huduts ruhaniyyah al-Baqi’).
c. Jiwa dalam kebaharuannya sebagai jasmani dan keabadiannya sebagai ruhani (Nafs al-jasmaniyah al-Huduts ruhaniyyah al-Baqi’).
Yang dimaksud Mulla Sadra dengan Kebaharuan Jasmani
dan Keabadian Jiwa (Jasmaniyah al-Huduts wa Ruhaniyyah al-Baqi’) adalah proses
terjadinya jiwa yang bersifat baharu dan berasal dari fisik atau materi dan
selanjutnya mengalami proses kesempurnaan melalui gerakan trans-substansial
(seperti penjelasan sebelumnya) dan kemudian menyempurna menjadi ruhani dan
tetap abadi pada kondisi tersebut.
Pandangan ini sangat bertentangan pada umumnya dengan
para filosof pendahulu Mulla Sadra yang meyakini bahwa jiwa telah tercipta
terlebih dahulu sebelum tubuh diciptakan baru kemudian bergabung dengan fisik
yang baru diciptakan tersebut . Bagi Mulla Sadra Jiwa terjadi bersamaan dengan
terjadinya fisik dan sama-sama berasal dari materi, ketika materi pertama
terbentuk ada dua unsur utama yang membentuk materi tersebut yaitu forma dan
dasar materi (Hayyula). Perkembangan forma inilah yang kemudian teraktualisasi
menjadi jiwa sedangkan materi dasar teraktualisasi menjadi raga.
Menurut Mulla Sadra, jiwa merupakan forma manusia yang
muncul secara fisik dan abadi menjadi ruhani (Jasmaniyah al-Huduts Ruhaniyah
al-Baqi’) sebagaimana yang telah lalu, bahwa intelek affektif (‘Akal
al-Munfa’il) merupakan akhir dari makna fisik dan permulaan dari makna ruhani.
Sedangkan manusia merupakan jalan penghubung (sirath al-Mamdud) di antara dua
alam, dia sederhana melalui ruhnya dan terkomposisi melalui fisiknya. Tabi’at
fisiknya merupakan yang paling murni diantara forma-forma materi bumi dan
jiwanya menempati tingkat yang paling tinggi diantara jiwa yang utama. Untuk membuktikan pandangannya ini Mulla Sadra mengemukakan berbagai bukti sebagai
berikut :
1. Setiap yang terlepas dari materi tidak akan bersatu
dengannya dan menjadi aksiden yang dekat (‘Aridh al-Qarib) dengan dasar bahwa
sesungguhnya dimensi potensial dan kesiapan kembali kepada persoalan bahwa
dirinya secara substansial merupakan potensi semata yang terhasilkan dari forma
yang membentuknya (Muqawwamah) dan tidaklah dirinya melainkan hanyalah bagian
dari materi dasar utama (Hayyulah al-Jurmaniyyah) maka pastilah barangsiapa
yang beranggapan bahwa jiwa terlepas dari materi kemudian bergabung bersamanya
maka pandangan ini akan menyebabkan terjadinya reinkarnasi.
2. Sekiranya jiwa ada sebelum fisik diciptakan maka
jiwa tidak mungkin plural ataupun satu. Tidak mungkin yang pertama (plural)
karena perbedaan hanya terjadi pada sesuatu yang memiliki batasan spesies
(Nau’) baik melalui materi-materinya, aksiden-aksidennya,
aktivitas-aktivitasnya atau tujuan-tujuannya atau sebab-sebab yang berpengaruh
pada jiwa ini. Sedangkan forma jiwa sekaligus merupakan substansinya karena
kesatuannya dalam spesiesnya dan aktivitasnya merupakan hal yang satu,
tujuannya tersambung padanya dan menyerupainya maka pluralitasnya hanya akan
terjadi baik melalui materi atau sebagaimana dia dalam ketetapannya
(identitasnya) seperti tubuh padahal realitasnya jiwa terpisah dari tubuh hal
ini jelas inkonsistensi. Sedangkan yang kedua (Satu) karena diterimanya
pluralitas setelah kesatuan dari spesifikasi ukuran-ukuran dan
aksiden-aksidennya sedangkan jiwa tidaklah demikian.
3. Jika jiwa diciptakan sebelum tubuh maka jiwa
pastilah merupakan akal murni maka tidak mungkin keadaannya berubah ketika
dirinya terpisah dari lingkupan alam kesucian (‘alam al-Quds) dan kemudian
dilingkupi berbagai keburukan tubuh. Atau jiwa tersebut merupakan jiwa
substansial maka jiwa tersebut hanya vakum sejak azali karena kemustahilannya
untuk berpindah dan tidak ada kevakuman dalam wujudMulla Sadra dalam hal ini
menunjukkan konsistensi dirinya dalam penolakan terhadap reinkarnasi karena
pandangan yang menunjukkan keberadaan jiwa sebelum kebaradaan raga terjebak
pada persoalan reinkarnasi dan dengan pandangan ini juga Mulla Sadra
menunjukkan pengaruh gerakan trans-substansial yang merubah materi menjadi
ruhani dan kemudian melepaskan jiwa dari ikatannya dengan materi dan masuk pada
alam barzakh kemudian terus berkembang menuju alam akhirat sebagai alam
ruhaniah dan puncak perkembangan jiwa.
Namun demikian sekalipun bertentangan dengan sebagian
besar filosof sebelumnya, ada beberapa pandangan filosof sebelum Mulla Sadra
yang sesungguhnya juga memandang bahwa keberadaan jiwa tidaklah mendahului
keberadaan raga. Al-Farabi dan al-Ghazali meyakini bahwa jiwa belum ada sebelum
keberadaan raga, hanya saja keduanya tidak memberikan penjelasan secara rinci
bagaimana muncul jiwa bersama dengan raga tersebut. Al-Ghazali hanya menyatakan
sekilas bahwa jiwa diciptakan Allah di ‘Alam al-Amr, ketika janin telah siap
untuk menerima kehadiran jiwa , .
Dualisme jiwa dengan raga
Untuk menunjukkan bahwa antara jiwa dan raga bukanlah sesuatu yang satu secara dimensional Mulla Sadra mengemukakan beberapa argumentasi dan diantara argumentasi yang disebutnya sebagai argumentasi Arsyiyyah, Mulla Sadra menjelaskan sebagai berikut :
Untuk menunjukkan bahwa antara jiwa dan raga bukanlah sesuatu yang satu secara dimensional Mulla Sadra mengemukakan beberapa argumentasi dan diantara argumentasi yang disebutnya sebagai argumentasi Arsyiyyah, Mulla Sadra menjelaskan sebagai berikut :
Seperti yang diketahui bahwa persepsi merupakan
hadirnya objek pada diri subjek. Sekiranya terjadi persepsi pada daya fisik
(Tabi’ah al-Jasmaniyyah) sedangkan jiwa merupakan daya fisik, maka yang akan
terjadi adalah aksiden berdiri dengan dirinya sendiri dan ini jelas tidak
mungkin. Penjelasan untuk hal ini adalah sebagai berikut ; jika jiwa mempersepsi
daya fisik dan daya fisik karena merupakan cara bagaimana merasakan sesuatu
merupakan aksiden. Sekiranya jiwa merupakan daya fisik maka yang akan terjadi
adalah aksiden berdiri pada dirinya sendiri, ketidak mungkinan hal ini
mengingat aksiden jika berada di luar berada pada substansi dan tidak pada
dirinya sendiri. Karenanya pastilah bahwa subjek yang mempersepsi bukanlah daya
fisik itu sendiri tetapi dia berada pada lokus yang lain.
Lokus yang dimaksud
bukan fisik mutlak karena hal tersebut tidak mungkin karena akan mengakibatkan
setiap forma fisik akan dapat melakukan persepsi dan bukan pula bagian dari
fisik karena akan menyebabkan seluruh bagian dari fisik dapat melakukan
persepsi dan ini bertentangan dengan fakta. Karenanya daya yang melakukan
persepsi terhadap daya fisik tersebut pastilah selain dari daya fisik itu
sendiri dan bukan pula fisik tempat bersandarnya daya fisik. Pastilah sesuatu
selain dari keduanya yaitu jiwa.
Dengan argumentasi ini Mulla Sadra membuktikan
dualisme pada diri manusia dan keduanya memiliki perbedaan secara dimensional,
namun demikian dualisme ini bukan sebagaimana yang dipahami Ibn Sina, bahwa
jiwa dan raga merupakan dua substansi yang berhubungan sejak awal keberadaan.
Mulla Sadra menolak pola hubungan dua substansi yang diyakini Ibn Sina.
Dualisme dalam pengertian Mulla Sadra di sini, bahwa Jiwa sekalipun berkembang
bersama raga pada awalnya namun kemudian menjadi lokus bagi seluruh daya dan
potensi, berbeda dengan raga fisik yang hanya bersifat resesif bagi aktualisasi
seluruh daya dan potensi tersebut. Mulla Sadra seringkali menggunakan
perumpamaan bagi dualisme jiwa dan raga seperti juru mudi dan perahu .
Transendensi Jiwa Rasional (Tajarrud al-Nafs
al-Natiqah)
Di antara persoalan penting yang menjadi bagian pembahasan dalam persoalan jiwa adalah transendensi jiwa rasional. Dalam kontek ini para filosof khususnya Mulla Sadra ingin menunjukkan bahwa jiwa setelah mengalami perkembangan akibat gerakan tran-substansial yang terjadi menyebabkan jiwa menjadi substansi yang non-material yang ada pada diri manusia. Hal ini menjadi landasan utama keabadian diri manusia karena perkembangannya yang me-non-materi tersebut dan kemampuan jiwa untuk dapat berpindah dari satu fase kehidupan (Nasy’ah) kepada fase kehidupan yang lain. Di antara argumentasi yang dikemukakan Mulla Sadra antara lain :
Di antara persoalan penting yang menjadi bagian pembahasan dalam persoalan jiwa adalah transendensi jiwa rasional. Dalam kontek ini para filosof khususnya Mulla Sadra ingin menunjukkan bahwa jiwa setelah mengalami perkembangan akibat gerakan tran-substansial yang terjadi menyebabkan jiwa menjadi substansi yang non-material yang ada pada diri manusia. Hal ini menjadi landasan utama keabadian diri manusia karena perkembangannya yang me-non-materi tersebut dan kemampuan jiwa untuk dapat berpindah dari satu fase kehidupan (Nasy’ah) kepada fase kehidupan yang lain. Di antara argumentasi yang dikemukakan Mulla Sadra antara lain :
1. Argumentasi ini berdasarkan prinsip ilmu huduri
dengan penjelasan sebagai berikut; Kita dapat mempersepsi diri kita sendiri dan
persepsi tersebut menghasilkan diri kita pada diri kita sendiri dan karena
tidak ada sesuatu yang eksternal selain diri kita sendiri maka pastilah
hadirnya zat diri kita pada diri kita bersifat huduri yaitu zat jiwa
terhasilkan pada zat jiwa itu sendiri dan berdiri pada zatnya sendiri. Hal ini
menunjukkan bahwa jiwa adalah substansi yang berdiri sendiri dan terlepas dari
materi.
2. Argumentasi kedua adalah argumentasi yang disebut
Mulla Sadra dengan argumentasi Arsyiyyah dengan penjelasan sebagai berikut :
Jika daya rasional sama seperti halnya daya-daya fisik yang lain dan berada
pada dimensi materi maka pada daya ini akan berlaku hukum yang terjadi
sebagaimana pada daya-daya fisik yang lain pada saat fisik tersebut mencapai
usia tua. Seperti halnya daya-daya fisik menjadi lemah ketika tua demikian yang
akan terjadi pada daya rasional akan tetapi kenyataan terjadi sebaliknya. Usia
tua tidak menyebabkan lemahnya daya rasional bahkan semakin tua dan dewasa
seseorang semakin kuat daya rasionalnya karenanya daya rasional bukanlah berada
pada raga atau fisiknya akan tetapi pada sesuatu yang non-materi.
Pandangan bahwa jiwa sebagai substansi transenden
sebenarnya secara umum dikenal sebagai pengaruh filsafat Plato, hal ini
sepertinya seringkali menjadi sasaran kritik, seperti yang dilakukan Fazlur
Rahman , namun demikian patut disadari bahwa pandangan Plato dan Mulla Sadra
tentang jiwa sangat berbeda dan dalam pandangan-pandangan filsafat yang
dibangun Mulla Sadra kita melihat pandangan utama bertransformasinya seluruh
forma wujud pada tingkat yang lebih tinggi melalui gerakan trans-substansial
yang dikembangkannya, yang pada akhirnya tentu saja melepaskan forma wujud
tertentu dari materi, mengingat materi dalam dalam teori kosmologi Mulla Sadra
menempati level terendah dari level-level wujud yang diutarakannya.
Ada beberapa argumentasi lain berkaitan hal ini yang
dikemukakan Mulla Sadra, akan tetapi dua argumentasi di atas sudah memadai
untuk membuktikan transedensi jiwa dari raga dan materi.
Tetapnya jiwa pasca kehancuran raga
Para filosof muslim berpandangan bahwa jiwa akan tetap ada pasca kehancuran raga mengingat bahwa jiwa bersifat transenden dan jiwa tidak bergantung kepada raga kecuali sebagai identitas bagi dirinya. Keberadaannya justru menjadi lokus bagi keberadaan raga namun tidak sebaliknya. Ibn Sina menyatakan “Sesungguhnya jiwa tidaklah mengalami kematian dengan kematian raga dan bahkan tidak akan mengalami kehancuran sama sekali”
Para filosof muslim berpandangan bahwa jiwa akan tetap ada pasca kehancuran raga mengingat bahwa jiwa bersifat transenden dan jiwa tidak bergantung kepada raga kecuali sebagai identitas bagi dirinya. Keberadaannya justru menjadi lokus bagi keberadaan raga namun tidak sebaliknya. Ibn Sina menyatakan “Sesungguhnya jiwa tidaklah mengalami kematian dengan kematian raga dan bahkan tidak akan mengalami kehancuran sama sekali”
Pandangan ini tentu menjadi pandangan yang sangat
mendasar mengingat kebangkitan hanya bisa terjadi jika jiwa tetap ada. Untuk
menjelaskan persoalan ini Mulla Sadra terlebih dahulu menjelaskan keterikatan
jiwa dengan raga. Mulla Sadra menolak pandangan yang menyatakan bahwa
kebersamaan antara jiwa dengan raga hanyalah kebersamaan kebetulan dan diantara
keduanya tidak terjadi ikatan fundamental (Zatiyyah). Baginya ikatan diantara
keduanya adalah ikatan keharusan (luzumiyyah) bukan kebersamaan kesetaraan
(Mutadoifayn) dan bukan pula kebersamaan dua akibat untuk satu sebab dalam
wujud.
Keterikatan diantara keduanya tidak lain kecuali
kebersamaan keharusan secara utuh seperti antara materi dengan forma. Bagi
Mulla Sadra raga membutuhkan jiwa tidak dalam kekhususannya akan tetapi secara
mutlak dalam aktualisasinya sedangkan jiwa membutuhkan raga bukan dari segi
hakikat mutlak rasional akan tetapi dari segi keberadaan personalitas dan
identitasnya serta kebaharuan kedirian jiwa. Dengan penjelasannya tersebut
Mulla Sadra mendudukkan posisi raga hanyalah sebagai reseptif semata,
ketergantungan raga menurutnya adalah ketergantungan mutlak yang tidak akan
lenyap selama adanya jiwa bersamanya dan tidak akan ada dengan ketiadaan jiwa .
Dalam logika Mulla Sadra adalah tidak mungkin jiwa
mengalami kehancuran, karena jika kehancuran dapat terjadi pada jiwa maka
pastilah pada jiwa terdapat potensi untuk menerima kehancuran sedangkan potensi
tersebut bukanlah substansi jiwa. Sesuatu yang memiliki potensi kehancuran
haruslah bersama dengan sesuatu yang hancur dan itu adalah materi sedangkan
jiwa adalah substansi yang transenden yang reseptif terhadap forma-forma
rasional karena itu menurut Mulla Sadra adalah tidak mungkin jiwa mengalami
kehancuran . Hal ini bertolak belakang dengan pandangan al-Farabi, karena
menurut al-Farabi jiwa-jiwa yang tidak mengalami kesempurnaan akan tetap pada
tingkatnya sebagai materi bahkan dapat hancur bersama kehancuran materi
tersebut
Dengan argumentasi ini Mulla Sadra ingin menunjukkan
bahwa keterikatan yang terjadi diantara keduanya adalah keterikatan keharusan
bahwa secara eksternal tidak akan mungkin ada raga tanpa jiwa seperti halnya
tidak mungkinnya materi ada tanpa keberadaan forma. Jiwa membutuhkan raga dalam
kebaharuan dirinya serta dalam identitasnya. Tanpa raga tentu saja jiwa tidak
akan memiliki identitas, akan tetapi keberadaan jiwa selanjutnya tidak lagi bergantung
kepada raga akan tetapi ragalah yang bergantung kepada jiwa, seperti halnya
antara aksiden dengan substansi, keberadaan aksiden secara eksternal akan
selalu bergantung kepada keberadaan substansi tapi tidak sebaliknya. Kehancuran
atau kematian raga sama sekali tidak menyebabkan kehancuran atau kematian pada
jiwa. Kehancuran atau kematian hanya terjadi pada materi sedangkan jiwa adalah
substansi non materi yang terbebas dari ruang dan waktu sehingga terbebas dari
kehancuran. Seperti yang dinyatakan juga oleh Khwaja Nasiruddin Tusi “Jiwa
hidup melalui zatnya sendiri dan menghidupkan selainnya dan segala sesuatu yang
hidup karena zatnya mustahil baginya kematian selama-lamanya”
Fakultas Jiwa
Pembagian terhadap fakultas yang dilakukan Mulla Sadra adalah tidak murni berasal dari Mulla Sadra akan tetapi mengikuti pembagian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Ibn Sina di dalam kitabnya al-Syifa’ . Pembagian tersebut sebagai berikut :
Pembagian terhadap fakultas yang dilakukan Mulla Sadra adalah tidak murni berasal dari Mulla Sadra akan tetapi mengikuti pembagian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Ibn Sina di dalam kitabnya al-Syifa’ . Pembagian tersebut sebagai berikut :
Fakultas jiwa terbagi secara mendasar menjadi tiga
bagian yaitu ;
Pertama ; jiwa
Tumbuh-tumbuhan merupakan kesempurnaan pertama bagi fisik alami berorientasi
kepada apa yang telah menghadirkannya, mengendalikan bahkan reproduksi. Kedua
;jiwa Hewani merupakan kesempurnaan pertama bagi fisik alami yang
berorientasi kepada persepsi parsial dan bergerak dengan keinginan. Ketiga
; jiwa Manusia merupakan kesempurnaan pertama bagi fisik alami
berorientasi kepada intelek general, melakukan aktivitas kreatif dengan
menggunakan kemampuan berfikir dan analisa rasional. Pada ketiga fakultas ini
terdapat kesempurnaan dan kekurangan yang berbeda-beda.
Pada Jiwa Tumbuh-tumbuhan terdapat tiga daya yaitu :
Daya Konsumsi yang mengarahkan fisik untuk memiliki bentuk fisik sebagaimana
jenisnya. Daya
Berkembang yaitu daya yang mengembangkan fisik untuk sempurna dalam tinggi, dalam dan luas sehingga sempurna dalam pertumbuhannya. Daya Reproduksi yaitu daya yang mengambil materi yang sama secara potensial dari fisik tempatnya bergantung dan kemudian melakukan aktivitas untuk mengembangkan fisik lain yang berkesesuaian dari segi bentuk, jenis dan perbuatan.
Berkembang yaitu daya yang mengembangkan fisik untuk sempurna dalam tinggi, dalam dan luas sehingga sempurna dalam pertumbuhannya. Daya Reproduksi yaitu daya yang mengambil materi yang sama secara potensial dari fisik tempatnya bergantung dan kemudian melakukan aktivitas untuk mengembangkan fisik lain yang berkesesuaian dari segi bentuk, jenis dan perbuatan.
Pada Jiwa Hewani terbagi menjadi dua daya yaitu
Penggerak dan Persepsi. Penggerak terbagi menjadi dua bagian ; Penggerak karena
dirinya menjadi penyebab gerakan atau penggerak karena dirinya adalah subjek.
Makna penyebab yaitu bahwa dirinya merupakan sebab tujuan dan sebab ini adalah
sebab paling utama dari empat sebab. Penyebab tersebut merupakan daya kerinduan
(Syawqiyyah) yang berhubungan dengan daya imajinasi. Dan jika tergambarkan pada
dirinya forma yang dituju atau yang datang kepadanya muncullah daya penggerak
yang lain untuk menggerakkan dan dalam hal ini terbagi menjadi dua ; bagian
yang disebut Daya Syahwat yaitu daya yang muncul karena gerakan yang mendekatinya
dari sebab-sebab yang menggambarkan keharusan atau faidah yang mendatangkan
kenikmatan dan bagian yang disebut Daya Emosional (Ghadabiyyah) yaitu daya yang
muncul untuk menolak sesuatu yang digambarkan mendatangkan bahaya atau
kerusakan dan daya ini menuntut untuk mengalahkan. Sedangkan Daya Penggerak
sebagai subjek yaitu daya yang terbit pada syaraf atau sejenisnya, mengerutkan
urat-urat syaraf tersebut menarik tulang-tulang dan syaraf-syaraf serta
ikatan-ikatan kepada posisi yang bertentangan dari posisi awalnya.
Sedangkan Daya Persepsi terbagi menjadi dua bagian :
Daya Persepsi yang datang dari luar dan Daya Persepsi dari dalam. Daya Persepsi
dari luar adalah indrawi. Daya Persepsi dari dalam terbagi menjadi daya
persepsi parsial dan daya persepsi general. Daya persepsi parsial dari indra
eksternal dan daya persepsi parsial dari indra mental. Indra mental yang hanya
persepsi dan indra mental persepsi dan pengendali. Indra Mental persepsi
terbagi lagi menjadi persepsi terhadap forma parsial dan dan makna parsial.
Yang dimaksud forma parsial seperti imajinasi terhadap diri seseorang sedangkan
yang dimaksud makna parsial adalah persepsi terhadap A sebagai sahabat
sedangkan B adalah musuh ; Pengindra terhadap forma parsial disebut Indra
Bersama (Hissi Musytarak) dan dia mengumpulkan padanya beragam forma indrawi
eksternal sedangkan Pengindra makna parsial disebut Estimasi (Wahm). Kedua daya
ini memiliki perbendaharaan, perbendaharaan Indra Bersama adalah Imajinasi
sedangan Estimasi adalah Pengingat (Hafizah).
Sedangkan Daya Pengendali bahwa dirinya mengendalikan
objek-objek perbendaharaan pada dua perbendaharaan tersebut dengan cara
mengkomposisikan dan menganalisa. Pengkomposisian seperti manusia dalam rupa
burung, gunung zamrud. Daya ini jika menggunakan daya estimasi hewani disebut
imajinasi, jika menggunakan daya intelek (Natiqah) disebut Berfikir
(Mufakkirah).
Pembagian semua ini hanya berlaku untuk fakultas jiwa
tumbuh-tumbuhan dan hewan sedangkan pada jiwa manusia bagi Mulla Sadra tidak
dapat terjadi pembagian daya di dalamnya mengingat Jiwa Manusia hanya melakukan
persepsi general dan sesuatu yang general dalam konteks generalitasnya bukanlah
sesuatu yang dapat dibagi-bagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar