“Agama adalah mengenal Allah
(ma’rifatul-lah). Mengenal Allah adalah berlaku dengan akhlak (yang baik).
Akhlak (yang baik) adalah menghubungkan tali kasih sayang (silaturrahim). Dan
silaturrahim adalah memasukkan rasa bahagia di hati sesama.”
Sobat, rangkaian hadis yang dijalin oleh Syaikh Yusuf Makassari di
atas bukan saja mengandung konsep cinta (dalam hadis di atas terungkap dalam
gagasan tentang rahmah, kasih-sayang), namun juga kebahagiaan ( dalam versi
Bahasa Arab hadis tersebut terungkap dalam kata surur, salah satu
kata yang dipakai al-Qur’an untuk mengungkapkan gagasan tentang kegembiraan
atau kebahagiaan, di samping farah dan, yang lebih mendasar
lagi, sa’adah, thabah, serta falah).
Memang, pada kenyataannya, gagasan tentang kebahagiaan sangat
terkait dengan cinta dan kasih-sayang. Bahkan, kita dapat menyatakan bahwa
memberi dan memberikan kebahagiaan adalah hakikat dari cinta itu sendiri. Cinta
tak lain dan tak bukan adalah sumber dari keinginan untuk memberikan kebaikan –
yang mendatangkan kebahagiaan — kepada yang dicintai. Sebagian ulama
mendeskripsikan cinta sebagai dorongan untuk selalu memberi. Mencintai adalah
sebuah prinsip menempatkan kebutuhan dan kepentingan kita di bawah (atau
setelah) kebutuhan dan kepentingan orang yang kita cintai. Karena cinta, kita
rela mengesampingkan kebutuhan dan kepentingan kita demi terpenuhinya kebutuhan
dan kepentingan orang yang kita cintai. Inilah filosofi dasar tentang cinta dan
kasih sayang. Dan ini berlaku bagi siapa
pun, bahkan bukan hanya terbatas pada makhluk yang bernama manusia, melainkan
juga hewan, tumbuhan, benda-benda “mati”, tak terkecuali juga Allah, Tuhan
semesta alam.
Meski tak memiliki karsa bebas sendiri, sesungguhnya hewan,
tumbuhan, bahkan benda-benda “mati” ber-ada di alam semesta, tumbuh, dan
beraktivitas, dalam rangka mengejar kesempurnaan, mengejar kebaikan puncak yang
mungkin dicapainya sesuai dengan potensi (qadr, kadar)-nya
masing-masing. Dengan kata lain, mereka ber-ada dalam suatu cara sedemikian,
sehingga keberadaan mereka dapat memberikan manfaat maksimum bagi semesta.
Kenyataannya, sudah merupakan suatu fakta ilmiah bahwa alam secara ekologis
berfungsi dalam keseimbangan-maksimumnya. Bahwa, jika keseimbangannya tak
diganggu – oleh berbagai ulah perusakan – alam akan memberikan manfaat atau
kebaikan maksimum (cinta) kepada penghuninya:
“… Tak akan kamu lihat sesuatu
yang tidak seimbang dalam ciptaan Yang Maha Pengasih. Maka, lihatlah sekali
lagi, adakah kamu lihat sesuatu kekurangan di dalamnya? (QS. 67 : 3).
Disadur ulang tulisan Bapak Haidar
Bagir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar