Jika sejenak
kita merenungi alam semesta, maka sense
of cosmic segera menyadarkan bahwa eksistensi kita hanya "titik".
Bumi yang begitu besar ternyata merupakan bagian sangat kecil dari tata surya
dan galaksi kita, Bima sakti. Menurut perhitungan terakhir, terdapat 300 miliar
galaksi lain. Galaksi terdekat adalah Andromeda yang jaraknya kira-kira dua
juta tahun cahaya dari bumi. Artinya, Andromeda yang kita lihat melalui
observatorium Bosscha adalah galaksi dua juta tahun yang lalu. Ibarat menatap
potret, kita sedang melihat masa lalu. "Potret galaksi masa lalu"
tertua yang dapat kita lihat hingga saat ini adalah berusia 13,23 miliar tahun.
Mari kita masuk ke alam diri dan tinggalkan sejenak alam semesta.
Mengalihkan pandangan dari alam semesta ke alam diri, segera kita sadari bahwa hidup di dunia tak lebih lama daripada sehela nafas. Bukankah selain waktu saat ini, semua yang pernah kita jalani tidak begitu beda dengan semua yang belum kita jalani? Apa pun yang kita sentuh, percayai, dan tampak nyata hari ini akan menjadi—seperti realitas kemarin—sebuah ilusi di hari esok. Tidak jarang kita merasa "pernah" mengalami, padahal sesungguhnya belum. Sebaliknya kita merasa "belum" padahal sesungguhnya pernah. Otak tidak bisa membedakan antara ingatan dan fakta, mimpi dan imajinasi. Imajinasi pada masa lalu tidak terlalu berbeda dengan kenangan pada masa depan; keduanya tidak di sini! Masa lalu adalah gelap, masa depan penuh misteri, sebab kita hanya menyadari hidup pada titik kesadaran saat ini.
Saat ini kita berada dalam kandungan kolong langit. Sebelum lahir, kita merasa nyaman dan sangat betah di perut ibu. Kelahiran adalah perpindahan dari satu dunia ke dunia yang lain; dari dunia yang gelap tapi nyaman dan aman ke dunia yang terang tapi asing dan keras. Dalam situasi ketakberdayaan, pengalaman pertama yang mengagetkan membuat kita (ketika bayi) menangis. Namun, seiring dengan waktu kita pun kemudian merasa betah. Kita pada umumnya ingin tinggal selama mungkin di dunia ini. Namun suka atau tidak, maut pasti menjemput kita dan membawa kita ke liang lahat. Kita kembali berada dalam sebuah kandungan yakni kandungan bumi yang gelap.
Apakah segalanya ditenggelamkan oleh kematian? Tidak! Kesadaran kita yang paling dalam dan paling jernih sama sekali tidak dapat menerima jika kita "benar-benar dapat tiada" saat kita meninggal. Kita akan dilahirkan kembali ke alam yang lebih hakiki (akhirat) setelah mencicipi kehidupan kubur. Dalam kehidupannya di dunia, kita serupa dengan keadaan bayi yang belum dilahirkan atau telur yang belum menetas. Kesempurnaan wujud kita adalah dengan meninggalkan "dunia telur". Kehidupan kita sekarang al-quran menyebutnnya al-hayat al-dunya (kehidupan yang rendah), sedangkan kehidupan setelah kematian disebut al-hayawan (kehidupan yang sempurna). Disebut sempurna karena ruh suci kita menyatu kembali dengan Dia Sang Sumber Kehidupan. Akankah kita mengalami kehidupan yang sempurna? Lalu sampaikah kita pada tujuan akhir kembali menyatu dengan-Nya? Tuk itu mulai dari sekarang sering-seringlah mudik agar kita mengetahui jalan pulang (kembali) menuju kampung sejati nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar