Kamis, 30 Oktober 2014

Ka’bah sudah terkontaminasi?

Beberapa hari lagi kita telah merayakan Idul Adha. Perayaan Idul Adha kali ini dirayakan di tengah kegetiran yang menyelimuti bangsa dan di belahan lain dunia. Kita mengagungkan nama Tuhan di sela rentetan ujian yang menimpa umat Islam di Timur Tengah. Berita demi berita menghentakkan dada kita ketika melihat pertumpahan darah di antara sesama umat Muhammad di negeri-negeri Arab.

Pada upacara haji ini, berkumpul seluruh kaum Muslimin dari seluruh penjuru bumi. Inilah musyawarah agung kaum Muslimin. Semestinya pada saat-saat seperti itu, mereka yang tengah berkumpul di Baitullah berbagi derita dengan saudara mereka di belahan lain dunia. Muslim Indonesia mengabarkan penderitaan bangsanya, Muslim Bosnia mengisahkan duka cita negerinya. Afghanistan, Irak, Siria, Palestina, hingga muslim Amerika, semua saling berbagi, setelah itu semua saling membahu untuk membantu dan mengisi.

Salah satu rukun ibadah haji adalah tawaf di ka’bah. Ka’bah merupakan poros bumi, tempat suci dimana umat Islam sedunia melakukan ritual ibdah haji. Anda yang pernah melaksanakan ibadah haji tentu pasti mengetahui bahwa gerakan tawaf bergerak berlawanan dengan jarum jam.

Sekarang disekitar ka’bah diletakkan jam raksasa (The Mecca Royal Clock Tower) dengan empat muka yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran ka’bah itu sendiri. Jika kita perhatikan gerakan yang ada, di sana ada dua gerakan yang berlawanan, yaitu: gerakan tawaf, dan gerakan perputaran jam. Gerakan tawaf adalah gerakan orang yang berjalan mengelilingi ka’bah dengan gerakan dari kanan ke arah kiri, sementara gerakan jam diatasnya bergerak ke arah kanan.

Dilihat dari dunia materi, kita bisa saja bangga melihat bangunan-bangunan di sekitar Masjidilharom yang begitu mengagumkan, bukti nyata adanya kemegahan yang luar biasa, yang katanya menyaingi Las Vegas yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya, kaum kapitalis tumbuh dengan gedung-gedung pencakar langit sebagai apartemen, pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

Jika kita melihat dengan pandangan dunia spiritual, maka suasana batin kita terasa sangat menyedihkan, menakutkan, sekaligus mengiriskan hati. Bagaimana tidak, Baitullah tempat beribadah umat Islam seluruh dunia ini sudah tertutup dengan gedung-gedung pencakar langit yang dengan angkuhnya berdiri tegap penuh keserakahan disekitar halaman Masjidilharom seakan-akan mau menelan dan mengubur ka’bah yang berada di bawahnya yang jauh lebih kecil dari segi ukuran.


Tengoklah alam semesta dan juga diri kita. Ka’bah merupakan poros bumi, saya biasa menyebutkannya sebagai jantung dunia. Dalam diri kita ada organ tubuh yang berperan untuk memompakan darah, tanpa berhenti bekerja dan selalu mengeluarkan darah bersih, dan menerima darah kotor yang sudah digunakan untuk dibersihkan kembali, organ tubuh itu adalah “jantung”. Jantung adalah pusatnya peredaran darah. Jika jantung rusak maka akan timbul berbagai macam penyakit. Jika detak jantung itu berhenti maka tanda ajal pun akan segera tiba.

Lalu bagaimana dengan ka’bah? Umat Islam datang ke Baitullah dari berbagai penjuru dunia untuk berhaji dengan niat mensucikan diri dengan harapan ketika pulang mereka akan kembali fitrah setelah memenuhi panggilan suci Ilahi. Bagaimana jika tempat itu sudah terkontaminasi, disekitarnya sudah penuh dengan keserakahan? Jam bertengger tinggi di atas sekitar halaman ka’bah dengan tulisan nama Allah ( di puncaknya ada simbol bintang daud) sementara di bawahnya ada ka’bah yang berukuran jauh lebih kecil.

Ibarat jantung sebagai pusat peredaran darah dan Masjidilharom dengan ka’bahnya sebagai pusat bumi, maka di sekitar ka’bah ada pusat bisnis kaum kapitalis dan zionis di sana adanya peredaran uang. Jika jam dugunakan sebagai alat untuk melihat putaran waktu, dan jantung sebagai tempat peredaran darah, maka ka’bah adalah pusat tawaf sebagai putaran manusia. Bagaimana jadinya jika peredaran ini sudah terkontaminasi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar