Beberapa hari lagi kita telah merayakan
Idul Adha. Perayaan Idul Adha kali ini dirayakan di tengah kegetiran yang
menyelimuti bangsa dan di belahan lain dunia. Kita mengagungkan nama Tuhan di
sela rentetan ujian yang menimpa umat Islam di Timur Tengah. Berita demi berita
menghentakkan dada kita ketika melihat pertumpahan darah di antara sesama umat
Muhammad di negeri-negeri Arab.
Pada upacara haji ini, berkumpul seluruh
kaum Muslimin dari seluruh penjuru bumi. Inilah musyawarah agung kaum Muslimin.
Semestinya pada saat-saat seperti itu, mereka yang tengah berkumpul di
Baitullah berbagi derita dengan saudara mereka di belahan lain dunia. Muslim
Indonesia mengabarkan penderitaan bangsanya, Muslim Bosnia mengisahkan duka
cita negerinya. Afghanistan, Irak, Siria, Palestina, hingga muslim Amerika,
semua saling berbagi, setelah itu semua saling membahu untuk membantu dan
mengisi.
Salah satu rukun ibadah haji adalah
tawaf di ka’bah. Ka’bah merupakan poros bumi, tempat suci dimana umat Islam
sedunia melakukan ritual ibdah haji. Anda yang pernah melaksanakan ibadah haji tentu
pasti mengetahui bahwa gerakan tawaf bergerak berlawanan dengan jarum jam.
Sekarang disekitar ka’bah diletakkan jam
raksasa (The Mecca Royal Clock Tower) dengan empat muka yang ukurannya jauh
lebih besar dari ukuran ka’bah itu sendiri. Jika kita perhatikan gerakan yang
ada, di sana ada dua gerakan yang berlawanan, yaitu: gerakan tawaf, dan gerakan
perputaran jam. Gerakan tawaf adalah gerakan orang yang berjalan mengelilingi
ka’bah dengan gerakan dari kanan ke arah kiri, sementara gerakan jam diatasnya
bergerak ke arah kanan.
Dilihat dari dunia materi, kita bisa
saja bangga melihat bangunan-bangunan di sekitar Masjidilharom yang begitu
mengagumkan, bukti nyata adanya kemegahan yang luar biasa, yang katanya
menyaingi Las Vegas yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya, kaum
kapitalis tumbuh dengan gedung-gedung pencakar langit sebagai apartemen, pusat
perbelanjaan, dan lain-lain.
Jika kita melihat dengan pandangan dunia
spiritual, maka suasana batin kita terasa sangat menyedihkan, menakutkan,
sekaligus mengiriskan hati. Bagaimana tidak, Baitullah tempat beribadah umat
Islam seluruh dunia ini sudah tertutup dengan gedung-gedung pencakar langit
yang dengan angkuhnya berdiri tegap penuh keserakahan disekitar halaman
Masjidilharom seakan-akan mau menelan dan mengubur ka’bah yang berada di
bawahnya yang jauh lebih kecil dari segi ukuran.
Tengoklah alam semesta dan juga diri
kita. Ka’bah merupakan poros bumi, saya biasa menyebutkannya sebagai jantung
dunia. Dalam diri kita ada organ tubuh yang berperan untuk memompakan darah,
tanpa berhenti bekerja dan selalu mengeluarkan darah bersih, dan menerima darah
kotor yang sudah digunakan untuk dibersihkan kembali, organ tubuh itu adalah
“jantung”. Jantung adalah pusatnya peredaran darah. Jika jantung rusak maka
akan timbul berbagai macam penyakit. Jika detak jantung itu berhenti maka tanda
ajal pun akan segera tiba.
Lalu bagaimana dengan ka’bah? Umat Islam
datang ke Baitullah dari berbagai penjuru dunia untuk berhaji dengan niat
mensucikan diri dengan harapan ketika pulang mereka akan kembali fitrah setelah
memenuhi panggilan suci Ilahi. Bagaimana jika tempat itu sudah terkontaminasi,
disekitarnya sudah penuh dengan keserakahan? Jam bertengger tinggi di atas
sekitar halaman ka’bah dengan tulisan nama Allah ( di puncaknya ada simbol
bintang daud) sementara di bawahnya ada ka’bah yang berukuran jauh lebih kecil.
Ibarat jantung sebagai pusat peredaran
darah dan Masjidilharom dengan ka’bahnya sebagai pusat bumi, maka di sekitar
ka’bah ada pusat bisnis kaum kapitalis dan zionis di sana adanya peredaran
uang. Jika jam dugunakan sebagai alat untuk melihat putaran waktu, dan jantung
sebagai tempat peredaran darah, maka ka’bah adalah pusat tawaf sebagai putaran
manusia. Bagaimana jadinya jika peredaran ini sudah terkontaminasi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar