Kamis, 30 Oktober 2014

MIMPI DUNIA PENDIDIKAN

Akhir-akhir ini banyak sekolah yang berlabel Islam menempatkan jargonnya sebagai institusi pendidikan formal yang akan membentuk generasi yang bermoral. Tidak tanggung-tanggung bahkan ada sekolah yang menamakan lembaganya dengan sekolah berbasiskan akhlak dalam visi dan misinya selain membentuk generasi-generasi yang cerdas, dan kreatif. Hal penting yang perlu kita  pertanyakan adalah; mampukah kita membentuk generasi baru sebagai tunas-tunas muda yang kreatif, cerdas, dan mengakselerasikan intelegensinya; memiliki integritas spiritual dan moral. Generasi baru yang mampu membangun sebuah peradaban yang bagus? Jawaban sederhana atas pertanyaan besar ini adalah “dapat”. Tapi ingat, dapat ataupun mudah tidak segampang yang kita bayangkan. Tentu ada prasyaratnya. Lalu apa prasyaratnya?

            Pertama, guru dan orang tua harus meluruskan dan menyamakan persepsi dan paradigma dasar tentang anak. Mengapa hal ini penting dikedepankan? Karena persepsi itu sangat menentukan bagaimana cara kita berintekrasi dan memberikan perlakuan, termasuk pembelajaran kepada mereka. Jika anak-anak yang dipersepsikan sebagai “kertas putih” ketika dilahirkan, maka akan mengundang ambisi kita untuk mewarnainya sesuai dengan keinginan kita. Padahal anak-anak telah memiliki “fitrah dasar” yang dibekali potensi kecerdasan majemuk oleh Allah Swt dalam rangka mengaktualisasikan diri mereka dalam kehidupannya kelak. Oleh karena itu, guru dan orang tua harus memahami betul gaya belajar anak dan kecerdasan apa yang ia miliki. Mengetahui gaya belajar dan kecerdasan mereka akan memudahkan kita menengembangkan potensi anak-anak kita.


            Dengan mengetahui gaya belajar anak Anda, maka akan memudahkan Anda untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada buah hati Anda. Dalam dunia pendidikan mutakhir dewasa ini setidaknya ada tiga macam gaya belajar sebagaimana yang dipublikasikan lewat penelitian Profesor Ken dan Rita Dunn dari universitas St. John, New York dan para pakar Neuro Linguistic Programme (NLP) seperti Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder.
           
 Adapun ketiga gaya belajar itu adalah:

1). Visual
Biasanya anak-anak Anda suka dengan pertunjukan, peragaan. Mereka dapat mengingat hal-hal yang nampak oleh mata dan secara visual akan mengulanginya. Anak-anak yang memiliki kecenderungan dengan gaya belajar ini biasanya senang belajar dengan mengamati dan menggambarkannya. Jika anak Anda sangat dominan visual maka Anda akan menemukan beberapa hal pada diri mereka, diantaranya:
a). Anak-anak Anda adalah anak-anak yang teratur dalam memperhatikan sesuatu, terlebih penampilan mereka.
b). Lebih cepat mengingat dengan gambar, mereka juga suka membaca daripada dibacakan.
c). Anak-anak Anda membutuhkan gambaran yang menyeluruh dan menangkap secara detail, serta mengingat apa-apa yang mereka lihat.
Apa yang harus Anda lakukan? Yang harus dilakukan adalah:
·         Gunakan bahasa-bahasa ikon dalam presentasi terhadap murid-murid Anda di sekolah jika Anda adalah seorang guru, atau dalam bimbingan bagi orang tua di rumah dengan menciptakan simbol visual atau ikon yang mewakili konsep kunci.
·         Bagikan salinan-salinan kunci atau garis besar pelajaran, sisakan halaman kosong untuk catatan.
·         Gunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna daripada menggunakan papan tulis. Lalu gantungkan grafik berisi informasi penting di sekeliling ruangan pada saat Anda menyajikannya, setelah itu merujuk kembali grafik itu.

2). Auditori
Jika anak Anda masuk kategori gaya belajar auditori ini biasanya mereka belajar dengan berbicara, menyuarakan, dan mendengarkan. Mereka juga dapat belajar dengan mengulangi informasi atau berbicara pada diri mereka sendiri. Jangan kaget jika anak Anda suka berdebat, bercanda, atau bermain kata-kata. Jika anak Anda sangat dominan auditorial maka Anda akan menemukan beberapa hal pada diri mereka, diantaranya:
a)      perhatiannya mudah terpecah
b)      jika mereka berbicara, maka mereka suka berbicara dengan pola berirama
c)      biasanya mereka belajar dengan mendengarkan
d)     jika mereka membaca, maka mereka akan bersuara saat membaca atau menggerakkan bibir.
e)      Berdialog secara internal dan eksternal.
Apa yang harus Anda lakukan? Yang harus dilakukan adalah:
·         Gunakan variasi vokal, seperti perubahan nada, kecepatan bicara, dan volume dalam presentasi Anda.
·         Ajarkan sesuai dengan cara Anda menguji, jika Anda menyajikan informasi dalam urutan atau format tertentu maka ujilah informasi itu dengan cara yang sama.
·         Biarkan anak Anda belajar sambil mendengarkan musik.

3). Kinestetik
Anak-anak yang masuk kategori gaya belajar ini biasanya mereka suka terlibat langsung dengan cara menyentuh, bergerak, dan merasakan langsung. Intinya gaya belajar ini selalu dengan aktivitas fisik; tipe ini berorintasi pada kegiatan fisik (bergerak dan suka memegang benda-benda. Bahkan ketika mereka seharusnya duduk tenang, mereka tetap menghentak-hentakkan kaki. Jika anak Anda sangat dominan kinestetik maka Anda akan menemukan beberapa hal pada diri mereka, diantaranya:

a). Biasanya ketika mereka belajar: berfikir atau menghafal, atau mengingatkan pelajaran yang mereka dapatkan dengan cara sambil berjalan-jalan dan melihat-lihat di sekelilingnya.

b). Mereka belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik.

c). Menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak.
Apa yang harus Anda lakukan? Yang harus dilakukan adalah:
·         Jika tidak merasa terganggu dengan temannya yang lain, maka izinkan siswa berjalan-jalan di kelas.
·         Peragakan konsep sambil memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari langkah demi langkah.
·         Ungkapkan dengan tulus dari hati Anda, dengan ungkapan: Ibu senang lho kamu berpartisipasi.
·         Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar Anda kepada anak Anda, dan dorong mereka untuk melakukan hal yang sama.

            Kedua, pendidikan yang harus diberikan orang tua kepada anaknya tidaklah cukup dengan cara menyerahkan anaknya kepada pihak sekolah. Tetapi lebih dari itu, orangtua haruslah menjadi guru yang terbaik bagi anak-anaknya. Orang tua tidak hanya mengajarkan pengetahuan tentang “apa yang harus diketahui” tetapi lebih dari itu orang tua harus menjadi kurikulum yang baik bagi anak-anaknya yakni sebagai suritauladan yang baik. Melalui keteladanan dan kebiasaan orang tua yang gandrung pada ilmu, anak-anak akan meniru dan menarik pelajaran yang amat berharga dari orang tuanya.

          Ketiga, guru harus betul-betul memahami hakikat keberadaanya di dunia pendidikan. Tidak dipungkiri bahwa dalam interaksi proses belajar mengajar, pasti dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi serta bakat dan apa motivasinya.

Hal penting yang harus juga kita perhatikan untuk menumbuhkembangkan bakat dan kreativitas anak adalah adanya fasilitas yang keberadaannya menentukan optimalisasi proses belajar mengajar. Untuk mewujudkan generasi yang kreatif, maka semua pihak baik swasta maupun pemerintah haruslah mendukung penuh dengan memberikan fasilitas yang memadai berupa sarana dan prasarana. Lalu di mana peran guru? Peran guru sebagai pendidik adalah selalu kreatif dalam menciptakan pembelajaran ke arah perkembangan kreativitas sesuai dengan minat dan bakat siswa. Sementara orang tua sendiri harus kooperatif mewujudkan impian itu dengan pihak sekolah. 

Untuk mewujudkan impian kita agar mereka menjadi “cerdas” tidaklah mudah, diperlukan semangat, kepedulian, kerja keras, pengorbanan, dan tentu pemahaman yang baik tentang apa dan bagaimana konsep pendidikan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar