Akhir-akhir
ini banyak sekolah yang berlabel Islam menempatkan jargonnya sebagai institusi
pendidikan formal yang akan membentuk generasi yang bermoral. Tidak
tanggung-tanggung bahkan ada sekolah yang menamakan lembaganya dengan sekolah
berbasiskan akhlak dalam visi dan misinya selain membentuk generasi-generasi
yang cerdas, dan kreatif. Hal penting yang perlu kita pertanyakan adalah; mampukah kita membentuk
generasi baru sebagai tunas-tunas muda yang kreatif, cerdas, dan
mengakselerasikan intelegensinya; memiliki integritas spiritual dan moral.
Generasi baru yang mampu membangun sebuah peradaban yang bagus? Jawaban
sederhana atas pertanyaan besar ini adalah “dapat”. Tapi ingat, dapat ataupun
mudah tidak segampang yang kita bayangkan. Tentu ada prasyaratnya. Lalu apa
prasyaratnya?
Pertama,
guru dan orang tua harus meluruskan dan menyamakan persepsi dan paradigma dasar
tentang anak. Mengapa hal ini penting dikedepankan? Karena persepsi itu sangat
menentukan bagaimana cara kita berintekrasi dan memberikan perlakuan, termasuk
pembelajaran kepada mereka. Jika anak-anak yang dipersepsikan sebagai “kertas
putih” ketika dilahirkan, maka akan mengundang ambisi kita untuk mewarnainya
sesuai dengan keinginan kita. Padahal anak-anak telah memiliki “fitrah dasar”
yang dibekali potensi kecerdasan majemuk oleh Allah Swt dalam rangka
mengaktualisasikan diri mereka dalam kehidupannya kelak. Oleh karena itu, guru
dan orang tua harus memahami betul gaya belajar anak dan kecerdasan apa yang ia
miliki. Mengetahui gaya belajar dan kecerdasan mereka akan memudahkan kita
menengembangkan potensi anak-anak kita.
Dengan mengetahui gaya belajar anak
Anda, maka akan memudahkan Anda untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada
buah hati Anda. Dalam dunia pendidikan mutakhir dewasa ini setidaknya ada tiga
macam gaya belajar sebagaimana yang dipublikasikan lewat penelitian Profesor
Ken dan Rita Dunn dari universitas St. John, New York dan para pakar Neuro
Linguistic Programme (NLP) seperti Richard Bandler, John Grinder, dan Michael
Grinder.
Adapun ketiga gaya belajar itu
adalah:
1).
Visual
Biasanya
anak-anak Anda suka dengan pertunjukan, peragaan. Mereka dapat mengingat
hal-hal yang nampak oleh mata dan secara visual akan mengulanginya. Anak-anak
yang memiliki kecenderungan dengan gaya belajar ini biasanya senang belajar
dengan mengamati dan menggambarkannya. Jika anak Anda sangat dominan visual
maka Anda akan menemukan beberapa hal pada diri mereka, diantaranya:
a).
Anak-anak Anda adalah anak-anak yang teratur dalam memperhatikan sesuatu,
terlebih penampilan mereka.
b).
Lebih cepat mengingat dengan gambar, mereka juga suka membaca daripada
dibacakan.
c).
Anak-anak Anda membutuhkan gambaran yang menyeluruh dan menangkap secara
detail, serta mengingat apa-apa yang mereka lihat.
Apa
yang harus Anda lakukan? Yang harus dilakukan adalah:
·
Gunakan bahasa-bahasa ikon dalam
presentasi terhadap murid-murid Anda di sekolah jika Anda adalah seorang guru,
atau dalam bimbingan bagi orang tua di rumah dengan menciptakan simbol visual
atau ikon yang mewakili konsep kunci.
·
Bagikan salinan-salinan kunci atau garis
besar pelajaran, sisakan halaman kosong untuk catatan.
·
Gunakan kertas tulis dengan tulisan
berwarna daripada menggunakan papan tulis. Lalu gantungkan grafik berisi
informasi penting di sekeliling ruangan pada saat Anda menyajikannya, setelah
itu merujuk kembali grafik itu.
2).
Auditori
Jika
anak Anda masuk kategori gaya belajar auditori ini biasanya mereka belajar
dengan berbicara, menyuarakan, dan mendengarkan. Mereka juga dapat belajar
dengan mengulangi informasi atau berbicara pada diri mereka sendiri. Jangan
kaget jika anak Anda suka berdebat, bercanda, atau bermain kata-kata. Jika anak
Anda sangat dominan auditorial maka Anda akan menemukan beberapa hal pada diri
mereka, diantaranya:
a)
perhatiannya mudah terpecah
b)
jika mereka berbicara, maka mereka suka
berbicara dengan pola berirama
c)
biasanya mereka belajar dengan
mendengarkan
d)
jika mereka membaca, maka mereka akan
bersuara saat membaca atau menggerakkan bibir.
e)
Berdialog secara internal dan eksternal.
Apa
yang harus Anda lakukan? Yang harus dilakukan adalah:
·
Gunakan variasi vokal, seperti perubahan
nada, kecepatan bicara, dan volume dalam presentasi Anda.
·
Ajarkan sesuai dengan cara Anda menguji,
jika Anda menyajikan informasi dalam urutan atau format tertentu maka ujilah
informasi itu dengan cara yang sama.
·
Biarkan anak Anda belajar sambil
mendengarkan musik.
3).
Kinestetik
Anak-anak
yang masuk kategori gaya belajar ini biasanya mereka suka terlibat langsung
dengan cara menyentuh, bergerak, dan merasakan langsung. Intinya gaya belajar
ini selalu dengan aktivitas fisik; tipe ini berorintasi pada kegiatan fisik
(bergerak dan suka memegang benda-benda. Bahkan ketika mereka seharusnya duduk
tenang, mereka tetap menghentak-hentakkan kaki. Jika anak Anda sangat dominan
kinestetik maka Anda akan menemukan beberapa hal pada diri mereka, diantaranya:
a).
Biasanya ketika mereka belajar: berfikir atau menghafal, atau mengingatkan pelajaran
yang mereka dapatkan dengan cara sambil berjalan-jalan dan melihat-lihat di
sekelilingnya.
b).
Mereka belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi
secara fisik.
c).
Menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak.
Apa
yang harus Anda lakukan? Yang harus dilakukan adalah:
·
Jika tidak merasa terganggu dengan
temannya yang lain, maka izinkan siswa berjalan-jalan di kelas.
·
Peragakan konsep sambil memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mempelajari langkah demi langkah.
·
Ungkapkan dengan tulus dari hati Anda,
dengan ungkapan: Ibu senang lho kamu berpartisipasi.
·
Ceritakan pengalaman pribadi mengenai
wawasan belajar Anda kepada anak Anda, dan dorong mereka untuk melakukan hal
yang sama.
Kedua,
pendidikan yang harus diberikan orang tua kepada anaknya tidaklah cukup dengan
cara menyerahkan anaknya kepada pihak sekolah. Tetapi lebih dari itu, orangtua
haruslah menjadi guru yang terbaik bagi anak-anaknya. Orang tua tidak hanya
mengajarkan pengetahuan tentang “apa yang harus diketahui” tetapi lebih dari
itu orang tua harus menjadi kurikulum yang baik bagi anak-anaknya yakni sebagai
suritauladan yang baik. Melalui keteladanan dan kebiasaan orang tua yang
gandrung pada ilmu, anak-anak akan meniru dan menarik pelajaran yang amat berharga
dari orang tuanya.
Ketiga,
guru harus betul-betul memahami hakikat keberadaanya di dunia pendidikan. Tidak
dipungkiri bahwa dalam interaksi proses belajar mengajar, pasti dipengaruhi
oleh latar belakang sosial ekonomi serta bakat dan apa motivasinya.
Hal penting yang harus juga kita
perhatikan untuk menumbuhkembangkan bakat dan kreativitas anak adalah adanya
fasilitas yang keberadaannya menentukan optimalisasi proses belajar mengajar.
Untuk mewujudkan generasi yang kreatif, maka semua pihak baik swasta maupun
pemerintah haruslah mendukung penuh dengan memberikan fasilitas yang memadai
berupa sarana dan prasarana. Lalu di mana peran guru? Peran guru sebagai
pendidik adalah selalu kreatif dalam menciptakan pembelajaran ke arah
perkembangan kreativitas sesuai dengan minat dan bakat siswa. Sementara orang
tua sendiri harus kooperatif mewujudkan impian itu dengan pihak sekolah.
Untuk
mewujudkan impian kita agar mereka menjadi “cerdas” tidaklah mudah, diperlukan
semangat, kepedulian, kerja keras, pengorbanan, dan tentu pemahaman yang baik
tentang apa dan bagaimana konsep pendidikan itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar