Kamis, 30 Oktober 2014

APA YANG SEHARUSNYA DIAJARKAN DI SEKOLAH?

Herbert Spencer mengajukan pertanyaan tentang pengetahuan apa yang paling berharga? Ia menjawab sendiri atas pertanyaannya yaitu pengetahuan yang memampukan kaum muda untuk menangani berbagai masalah dan menyiapkan mereka untuk menyelesaikan berbagai masalah yang kelak akan mereka temui sebagai orang dewasa di tengah masyarakat yang demokratis.

Tulisan ini ingin menyegarkan kembali ingatan kita pada buku-buku yang pernah kita baca yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Setidaknya ada beberapa mazhab kurikulum yang harus diterapkan di setiap lembaga pendidikan (sekolah). Adapun beberapa mazhab itu antara lain:

Pertama, esensialisme. Konsepnya adalah: guru harus mengajarkan siswa tentang inti pengetahuan dari setiap mata pelajaran esensial dengan jumlah yang sangat terbatas. Kesimpulan yang dapat kita terapkan dalam pengajaran dari mazhab ini adalah bahwa pendidikan itu hanya dapat dihasilkan melalui mata pelajaran pilihan.

Kedua, ensiklopedisme. Konsepnya adalah materi pendidikan harus mencangkup seluruh pengetahuan manusia, dengan menggunakan buku-buku pelajaran berilustrasi setiap pelajaran.

Ketiga, pengembangan kemampuan indra anak. Konsepnya adalah bahwa setiap pembelajaran itu harus menggunakan media (menggunakan latihan-latihan terukur).

Keempat, pragmatis. Konsepnya adalah pendidikan yang berpusat pada anak didik. Menurut hemat saya, ini merupakan ruh dari beberapa mazhab yang dibahas dalam tulisan ini. Jhon Dewey, seorang profesor pendidikan Amerika menyatakan bahwa pendidikan itu seharusnya berpusat pada anak dan kurikulum yang harus dirancang berdasarkan kebutuhan pribadi setiap anak. 

Ungkapan profesor Dewey di atas saya pikir selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Paulo Freire seorang praktisi pendidikan asal Brazil yang menyatakan bahwa: tujuan pendidikan adalah merekonstruksi masyarakat, sungguh ini merupakan teori progresif sebagaimana yang diungkapkan oleh Herbert Spencer di atas.

Kelima, common sense atau pendekatan akal sehat yaitu meninggalkan dogma-dogma dan berpikir terbuka. Lalu dimana posisi moralitas? Saya pikir jika kita berbicara tentang moral, etika, akhlak atau apa pun namanya tak perlu banyak teori. Akhlak tercermin dalam sikap dan perbuatan bukan hanya lewat lisan atau pun slogan-slogan. Jadi, guru dan orangtua di rumah harus menjadi suritauladan bagi anak-anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar