Herbert
Spencer mengajukan pertanyaan tentang pengetahuan apa yang paling berharga? Ia
menjawab sendiri atas pertanyaannya yaitu pengetahuan yang memampukan kaum muda
untuk menangani berbagai masalah dan menyiapkan mereka untuk menyelesaikan
berbagai masalah yang kelak akan mereka temui sebagai orang dewasa di tengah
masyarakat yang demokratis.
Tulisan
ini ingin menyegarkan kembali ingatan kita pada buku-buku yang pernah kita baca
yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Setidaknya ada beberapa mazhab
kurikulum yang harus diterapkan di setiap lembaga pendidikan (sekolah). Adapun
beberapa mazhab itu antara lain:
Pertama,
esensialisme. Konsepnya adalah: guru harus mengajarkan siswa tentang inti
pengetahuan dari setiap mata pelajaran esensial dengan jumlah yang sangat
terbatas. Kesimpulan yang dapat kita terapkan dalam pengajaran dari mazhab ini
adalah bahwa pendidikan itu hanya dapat dihasilkan melalui mata pelajaran
pilihan.
Kedua,
ensiklopedisme. Konsepnya adalah materi pendidikan harus mencangkup seluruh
pengetahuan manusia, dengan menggunakan buku-buku pelajaran berilustrasi setiap
pelajaran.
Ketiga,
pengembangan kemampuan indra anak. Konsepnya adalah bahwa setiap pembelajaran
itu harus menggunakan media (menggunakan latihan-latihan terukur).
Keempat,
pragmatis. Konsepnya adalah pendidikan yang berpusat pada anak didik. Menurut
hemat saya, ini merupakan ruh dari beberapa mazhab yang dibahas dalam tulisan
ini. Jhon Dewey, seorang profesor pendidikan Amerika menyatakan bahwa
pendidikan itu seharusnya berpusat pada anak dan kurikulum yang harus dirancang
berdasarkan kebutuhan pribadi setiap anak.
Ungkapan
profesor Dewey di atas saya pikir selaras dengan apa yang diungkapkan oleh
Paulo Freire seorang praktisi pendidikan asal Brazil yang menyatakan bahwa:
tujuan pendidikan adalah merekonstruksi masyarakat, sungguh ini merupakan teori
progresif sebagaimana yang diungkapkan oleh Herbert Spencer di atas.
Kelima,
common sense atau pendekatan akal sehat yaitu meninggalkan dogma-dogma dan
berpikir terbuka. Lalu dimana posisi moralitas? Saya pikir jika kita berbicara
tentang moral, etika, akhlak atau apa pun namanya tak perlu banyak teori.
Akhlak tercermin dalam sikap dan perbuatan bukan hanya lewat lisan atau pun
slogan-slogan. Jadi, guru dan orangtua di rumah harus menjadi suritauladan bagi
anak-anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar