Kamis, 30 Oktober 2014

PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN

1.      Jadikan setiap hari adalah hari yang baru.

Pernahkah Anda terjaga dari tidur pagi dan berkata “Ah Senin lagi”? Ada beban berat Anda untuk memulai hari yang baru. Mengapa? Karena hari baru Anda tidak lebih dari megulang hari yang lalu, berbagai rutinitas kerja yang membosankan bagi Anda. 

Dalam penelitian tentang otak, jika hal ini terjadi pada diri Anda, maka segera otak Anda harus men-shutdown dari berbagai aktivitas yang semula sudah siap bekerja. Itu Anda, yang sudah sekian lama belajar tentang buruknya kemalasan. 

Anda bisa membayangkan jika hal ini terjadi pada anak-anak Anda? Maka sekolah pastilah dipandang laksana hantu drakula dengan taringnya yang sudah siap memangsa, pastilah wajah sang guru ( meski sudah tersenyum ikhlas ) tetap membosankan, apalagi jika di hari itu ada pelajaran Matematika.

Teman saya menceritakan: Ada pasangan muda yang mendatangi konsultan pendidikan, jelas dari gelar yang disandang sang bapak pastilah kecerdasannya cukup lumayan ‘MSC’ ditambah pekerjaannya sebagai dosen pada salah satu universitas bergengsi di Jakarta cukup menjadi bukti untuk mengatakan bahwa dia merupakan seorang yang berintelek. Dengan gelisah bapak itu menuturkan: “Putra kami sekarang berusia 11 tahun dan sudah duduk di kelas lima Sekolah Dasar, kami kembali dari Amerika sekitar satu tahun yang lalu. Ketika kami masih di Amerika anak saya cukup cerdas, bahkan ia sudah pernah membuat tulisan tentang cerita anak-anak. Dikarenakan kuliah saya sudah usai saya harus kembali ke Jakarta. Karena khawatir anak saya tidak mendapatkan pendidikan yang terbaik, maka saya masukan anak saya di salah satu sekolah plus, yang katanya sih cukup lumayan, terbukti uang masuknya di atas sepulu juta rupiah. But Unfortunately, anak saya selalu menangis setiap mau berangkat ke sekolah dan bahkan sekarang anak saya tidak mau pergi ke sekolah lagi. Saya sudah bicarakan dengan Wali Kelasnya dan juga Kepala Sekolah. Whats wrong? Anak saya selalu mendapat perlakuan yang baik, bahkan teman-teman satu kelasnya tidak ada yang menjahili dia”

Alhasil, sang konsultan menemukan sumber persoalan. Karena di sekolah yang baru, anak-anak diajarkan untuk menjadi anak yang baik dan sopan, dengan duduk yang selalu rapi, meja yang tidak boleh berubah letaknya, bahkan jika bosan sekalipun si anak tidak diperkenankan untuk memandang selain papan tulis dan wajah gurunya. By the way sekolah tersebut menjadi hantu yang menakutkan bagi anak tersebut.

Menciptakan suasana yang selalu baru tentu saja menjadi satu hal penting dalam memicu semangat anak. Lihatlah jika anak-anak Anda memiliki mainan baru, pasti anak Anda akan mengeksplorasi mainan tersebut bahkan men-tun up mainan tersebut, tapi beberapa lama kemudian anak Anda akan segera bosan dan meninggalkan mainan yang dulu menjadi kesukaannya.

Daniel Golman berkata: “Suasana yang baru selalu membuat otak kita berkembang lebih cepat”. Dengan demikian, apa yang harus dilakukan? Berikut ini merupakan beberapa tips atau cara agar suasana belajar anak tidak membosankan terutama di sekolah.

·         Ubahlah suasana kelas Anda ( jika bisa setiap hari ) seperti posisi duduk siswa, meja guru, letak lukisan, ajaklah Wali Kelas yang lain untuk saling bertukar kelas, bahkan jika memungkinkan rubahlah senyum Anda setiap hari.
·         Ajaklah anak-anak didik Anda untuk sesekali belajar di luar kelas, taman, masjid atau tempat yang menarik bagi Anak untuk belajar.
·         Ajak anak-anak Anda melakukan hal-hal yang baru seperti menyiram bunga, menambal baju, memberikan santunan.
·         Buatlah sebuah peristiwa yang berkesan bagi anak-anak didik Anda setiap hari. Misalkan di setiap akhir pelajaran mereka menirukan suara hewan, bercerita tentang kisah-kisah yang menarik, bernyanyi, atau keluar kelas dengan berbaris menirukan kereta api.

2.      Wujudkanlah suasana yang menyenangkan

Teman saya bercerita, salah seorang muridnya pernah menghadiahi sebuah buku dengan gambar sederhana seorang gadis Jepang dengan pita di topi bundarnya. Dia berujar: “Ah, apa gunanya untuk saya? Bisik kesombongan hatinya, dia pun meletakkannya begitu saja diantara buku-buku di raknya. Entah beberapa lama kemudian, dia berjumpa dengan muridnya yang dulu menghadiahinya sebuah buku tersebut, dan langsung meminta kesan tentang buku tersebut. Sungguh teman saya melihat kekecewaan di raut muka muridnya, ketika dia berkata jujur bahwa dia belum membaca buku tersebut. Sesampainya di rumah, teman saya mencari buku pemberian muridnya itu. Setelah ia membongkar beberapa tumpukan buku-bukunya akhirnya ia menemukan buku dengan gambar gadis Jepang sederhana “Toto Chan” teman saya pun membaca dua jam tanpa jeda. Teman saya menyesal bukan karena mengecewakan muridnya, akan tetapi ia menyesal baru saat itu ia membaca yang sederhana tapi sangat luar biasa. Jika Anda belum menemukan dan membaca buku tersebut, saya menyarankan untuk segera menemukan dan membacanya, saya yakin Anda juga akan menyesal sama halnya dengan teman saya yang menyesal karena kesombongannya yang selalu melahap buku-buku filsafat dan agama dan menganggap enteng sebuah buku sederhana itu.

Dari buku sederhana itu dapat kita simpulkan sebagai berikut: Toto Chan adalah nama kecil dari Tetsuko Kuroyanaghi, merupakan pengasuh acara yang terpopuler di Jepang. Kesuksesannya yang luar biasa banyak diwarnai yang ia masuki pasca perang. Mulanya Toto Chan dianggap sebagai anak yang aneh. Setiap pelajaran dimulai ketika anak-anak lain mengeluarkan buku dari tasnya, Toto Chan justru berdiri di jendela memandang keluar dan kalau tidak, pasti membuat yang menyusahkan gurunya. ‘Kenakalan’ Toto Chan pada akhirnya mengeluarkannya dari sekolah. Tomoe Gokuenlah sekolah yang dimasuki Toto Chan, sekolah yang selalu menciptakan suasana yang menyenangkan. Anda bisa bayangkan betapa tidak menyenangkan bagi seorang anak jika kelas mereka adalah sebuah gerbong kereta api. Setiap hari mereka menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu yang baru, setiap anak dapat memilih pelajaran yang mereka sukai dan setiap saat mereka dapat mendengarkan cerita-cerita lucu. Jika Anda merupakan seorang anak delapan tahun, bagaimana perasaan Anda dengan suasana yang seperti itu? 

            Suasana menyenangkan dalam proses belajar sangat membantu terserapnya berbagai informasi. Peter Kline menulis dalam bukunya The Everyday Genius: “Belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan. Daniel Golman juga menyatakan: “Belajar dalam kondisi yang menyenangkan empat kali lebih cepat dalam menyerap informasi”, terbukti berbagai ide akan muncul ketika berada dalam keadaan tenang dan juga menyenangkan. Pernahkah Anda mendapatkan ide-ide segar dan belum pernah terbayangkan oleh Anda sebelumnya ketika Anda ‘bertapa’ di toilet?

            Jika kita dalam keadaan senang dan gembira maka neuron-neuron otak berkembang lebih banyak. Jika Anda dalam keadaan marah, stres dan depresi, maka dendrit-dendrit dalam neuron-neuron otak Anda segera mati, sehingga timbulah perasaan lemah tak berdaya bahkan putus asa pada diri Anda. Untuk itu hindarilah keadaan yang tidak menyenangkan, stres, dan depresi, selain membuat otak Anda menjadi lemah, daya tahan tubuh Anda juga menurun, dan lebih bernahaya lagi usia Anda menjadi pendek.

            Jika Anda sayang diri dan anak-anak didik Anda dan ingin melihat anak didik Anda dapat menyerap berbagai informasi pelajaran yang Anda berikan, buatlah suasana yang menyenagkan ketika Anda mengajar. Berikut ini beberapa kiat yang mungkin bisa Anda ikuti dan kembangkan:

·         Usahakan jangan segera masuk kelas ketika suasana hati Anda dalam keadaan yang tidak menyenangkan, diamlah sejenak, ambil nafas dalam-dalam lalu katakan pada diri Anda: “ini bukan saatnya saya bersedih, seluruh permasalahan pasti ada jalan keluarnya”.

·         Mulailah masuk kelas dengan senyuman yang paling menawan yang Anda miliki dan tebarkan pandangan Anda kesetiap bagian kelas, sehingga seluruh anak didik Anda merasa diperhatikan.

·         Jika anak-anak didik Anda dalam keadaan ribut, tidak tenang atau lelah, jangan segera memulai pelajaran, ceritakan terlebih dahulu beberapa cerita lucu, buat salah satu anak menjadi peraga cerita tertentu.

·         Selingilah pelajaran Anda dengan game atau nyanyian yang lucu, sesekali buatlah lagu bersama anak-anak, atau menjadikan nama-nama mereka sebagai bagaian dari lagu).

·         Buatlah kelompok di antara anak dan buatlah lomba dalam menyelesaikan masalah pelajaran yang ingin Anda sampaikan.

·         Buatlah suasana kelas yang santai, baik posisi duduk, maupun kebebasan anak untuk duduk, baik di kursi atau di atas lantai.

·         Ikutilah tertawa bersama anak-anak dan tidak perlu jaga image alias jaim.

3.      Jadikan diri Anda sebagai motivator
Apa jadinya jika kita menjadi robot? Hidup ini pastilah kehilangan makna, tak lagi indah, tak ada lagi fenomena yang menarik, karena hidup kita berjalan sesuai dengan program yang diinstal kepada kita, jika demikian, maka manusia akan kehilangan eindahannya. Tuhan maha tahu akan semua itu, karena itu, Tuhan hanya memberikan berbagai potensi pada diri manusia dan selanjutnya menyerahkan pada manusia itu sendiri guna mengelola potensi yang dimilikinya, digunakan untuk tunduk pada penciptaannya atau menentangnya, tapi bagaimana pun hal tersebut membuat hidup dan kebaikan akan bermakna.
Tapi seringkali kita tidak belajar dari apa yang dilakukan Tuhan pada makhluk-Nya, kita memandang anak-anak dihadapan kita hanyalah onggokan daging ditambah dengan pandangan mata mereka yang polos menjadi tambahan argumentasi yang membenarkan anggapan kita, bahwa kita harus sebanyak mungkin menginstal informasi yang kita miliki, dengan demikian kelak anak tersebut akan menjadi pintar dan dapat hidup sukses. Padahal tahukah kita bahwa 100 % anggapan kita tersebut tidak benar.

Ikutilah kisah berikut ini:
Torrey Hadden penulis buku terlaris abad ini menceritakan kembali kisahnya tentang seorang anak autis, anak 9 tahun tersebut bukan hanya tidak memiliki kontak dengan dunia luar, bahkan pernah melakukan tindakan yang mengerikan, ia pernah membakar teman sebayanya dan menyaksikan dengan tanpa emosi hingga hangus terbakar. Anak tersebut dikirimkan ke sekolah yang dikembangkan Torrey Hadden. Di sekolah baru tersebut, hampir setiap hari ia memukuli anak-anak lain dan setelah itu berdiri disudut ruangan tanpa bergerak waktu yang lama. Sekiranya Anda menjadi Torrey Hadden apa yang akan Anda lakukan?

Kisah itu mengajarkan satu hal pada kita, bahwa motivasi dapat merubah seorang anak menjadi manusia lain, mampu mengembangkan diri dan mengaktualisasikan potensi yang mereka miliki dan semua terjadi justru dengan kekuatan yang ada dalam diri mereka sendiri.

Sungguh, jika Anda seorang guru, bukanlah tugas Anda memenuhi otak murid Anda dengan informasi-informasi yang Anda miliki, tapi motivasilah murid untuk mencari sendiri informasi yang dibutuhkan. Anda tingal mengajarkan cara mencari informasi tersebut. Karena dengan cara ini ingatan anak akan jauh lebih kuat terhadap informasi tersebut. Biarakan juga anak mengembagkan kreatifitas yang mereka miliki, doronglah mereka untuk selalu melakukan hal-hal yang menarik dan berarti karena hal tersebut mereka akan merasakan keberadaan mereka dihargai.

Berikut ini beberapa tips praktis memotivasi anak:
1.      Sebelum Anda memulai belajar, buatlah tulisan besar di papan tulis misalnya: “I am The Best”ajak anak-anak untuk membaca tulisan tersebut dengan suara sekeras-kerasnya.
2.      Ajaklah anak-anak Anda ke ruang perpustakaan, berilah beberapa persoalan yang sesuai dengan tingkat anak, bagilah dalam beberapa kelompok, mintalah mereka untuk mencari penyelesaian dari buku-buku yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar