1.
Jadikan setiap hari adalah hari yang
baru.
Pernahkah Anda
terjaga dari tidur pagi dan berkata “Ah Senin lagi”? Ada beban berat Anda untuk
memulai hari yang baru. Mengapa? Karena hari baru Anda tidak lebih dari
megulang hari yang lalu, berbagai rutinitas kerja yang membosankan bagi Anda.
Dalam penelitian
tentang otak, jika hal ini terjadi pada diri Anda, maka segera otak Anda harus
men-shutdown dari berbagai aktivitas yang semula sudah siap bekerja. Itu Anda,
yang sudah sekian lama belajar tentang buruknya kemalasan.
Anda bisa
membayangkan jika hal ini terjadi pada anak-anak Anda? Maka sekolah pastilah
dipandang laksana hantu drakula dengan taringnya yang sudah siap memangsa,
pastilah wajah sang guru ( meski sudah tersenyum ikhlas ) tetap membosankan,
apalagi jika di hari itu ada pelajaran Matematika.
Teman saya
menceritakan: Ada pasangan muda yang mendatangi konsultan pendidikan, jelas
dari gelar yang disandang sang bapak pastilah kecerdasannya cukup lumayan ‘MSC’
ditambah pekerjaannya sebagai dosen pada salah satu universitas bergengsi di
Jakarta cukup menjadi bukti untuk mengatakan bahwa dia merupakan seorang yang
berintelek. Dengan gelisah bapak itu menuturkan: “Putra kami sekarang berusia
11 tahun dan sudah duduk di kelas lima Sekolah Dasar, kami kembali dari Amerika
sekitar satu tahun yang lalu. Ketika kami masih di Amerika anak saya cukup
cerdas, bahkan ia sudah pernah membuat tulisan tentang cerita anak-anak. Dikarenakan
kuliah saya sudah usai saya harus kembali ke Jakarta. Karena khawatir anak saya
tidak mendapatkan pendidikan yang terbaik, maka saya masukan anak saya di salah
satu sekolah plus, yang katanya sih cukup lumayan, terbukti uang masuknya di
atas sepulu juta rupiah. But Unfortunately, anak saya selalu menangis setiap
mau berangkat ke sekolah dan bahkan sekarang anak saya tidak mau pergi ke
sekolah lagi. Saya sudah bicarakan dengan Wali Kelasnya dan juga Kepala
Sekolah. Whats wrong? Anak saya selalu mendapat perlakuan yang baik, bahkan
teman-teman satu kelasnya tidak ada yang menjahili dia”
Alhasil, sang
konsultan menemukan sumber persoalan. Karena di sekolah yang baru, anak-anak
diajarkan untuk menjadi anak yang baik dan sopan, dengan duduk yang selalu
rapi, meja yang tidak boleh berubah letaknya, bahkan jika bosan sekalipun si
anak tidak diperkenankan untuk memandang selain papan tulis dan wajah gurunya.
By the way sekolah tersebut menjadi hantu yang menakutkan bagi anak tersebut.
Menciptakan
suasana yang selalu baru tentu saja menjadi satu hal penting dalam memicu
semangat anak. Lihatlah jika anak-anak Anda memiliki mainan baru, pasti anak
Anda akan mengeksplorasi mainan tersebut bahkan men-tun up mainan tersebut,
tapi beberapa lama kemudian anak Anda akan segera bosan dan meninggalkan mainan
yang dulu menjadi kesukaannya.
Daniel Golman
berkata: “Suasana yang baru selalu membuat otak kita berkembang lebih cepat”.
Dengan demikian, apa yang harus dilakukan? Berikut ini merupakan beberapa tips
atau cara agar suasana belajar anak tidak membosankan terutama di sekolah.
·
Ubahlah suasana kelas Anda ( jika bisa
setiap hari ) seperti posisi duduk siswa, meja guru, letak lukisan, ajaklah
Wali Kelas yang lain untuk saling bertukar kelas, bahkan jika memungkinkan
rubahlah senyum Anda setiap hari.
·
Ajaklah anak-anak didik Anda untuk
sesekali belajar di luar kelas, taman, masjid atau tempat yang menarik bagi
Anak untuk belajar.
·
Ajak anak-anak Anda melakukan hal-hal
yang baru seperti menyiram bunga, menambal baju, memberikan santunan.
·
Buatlah sebuah peristiwa yang berkesan
bagi anak-anak didik Anda setiap hari. Misalkan di setiap akhir pelajaran
mereka menirukan suara hewan, bercerita tentang kisah-kisah yang menarik,
bernyanyi, atau keluar kelas dengan berbaris menirukan kereta api.
2.
Wujudkanlah suasana yang menyenangkan
Teman saya
bercerita, salah seorang muridnya pernah menghadiahi sebuah buku dengan gambar
sederhana seorang gadis Jepang dengan pita di topi bundarnya. Dia berujar: “Ah,
apa gunanya untuk saya? Bisik kesombongan hatinya, dia pun meletakkannya begitu
saja diantara buku-buku di raknya. Entah beberapa lama kemudian, dia berjumpa
dengan muridnya yang dulu menghadiahinya sebuah buku tersebut, dan langsung
meminta kesan tentang buku tersebut. Sungguh teman saya melihat kekecewaan di
raut muka muridnya, ketika dia berkata jujur bahwa dia belum membaca buku
tersebut. Sesampainya di rumah, teman saya mencari buku pemberian muridnya itu.
Setelah ia membongkar beberapa tumpukan buku-bukunya akhirnya ia menemukan buku
dengan gambar gadis Jepang sederhana “Toto Chan” teman saya pun membaca dua jam
tanpa jeda. Teman saya menyesal bukan karena mengecewakan muridnya, akan tetapi
ia menyesal baru saat itu ia membaca yang sederhana tapi sangat luar biasa.
Jika Anda belum menemukan dan membaca buku tersebut, saya menyarankan untuk
segera menemukan dan membacanya, saya yakin Anda juga akan menyesal sama halnya
dengan teman saya yang menyesal karena kesombongannya yang selalu melahap
buku-buku filsafat dan agama dan menganggap enteng sebuah buku sederhana itu.
Dari buku
sederhana itu dapat kita simpulkan sebagai berikut: Toto Chan adalah nama kecil
dari Tetsuko Kuroyanaghi, merupakan pengasuh acara yang terpopuler di Jepang.
Kesuksesannya yang luar biasa banyak diwarnai yang ia masuki pasca perang.
Mulanya Toto Chan dianggap sebagai anak yang aneh. Setiap pelajaran dimulai
ketika anak-anak lain mengeluarkan buku dari tasnya, Toto Chan justru berdiri
di jendela memandang keluar dan kalau tidak, pasti membuat yang menyusahkan gurunya.
‘Kenakalan’ Toto Chan pada akhirnya mengeluarkannya dari sekolah. Tomoe
Gokuenlah sekolah yang dimasuki Toto Chan, sekolah yang selalu menciptakan
suasana yang menyenangkan. Anda bisa bayangkan betapa tidak menyenangkan bagi
seorang anak jika kelas mereka adalah sebuah gerbong kereta api. Setiap hari
mereka menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu yang baru, setiap anak dapat
memilih pelajaran yang mereka sukai dan setiap saat mereka dapat mendengarkan
cerita-cerita lucu. Jika Anda merupakan seorang anak delapan tahun, bagaimana
perasaan Anda dengan suasana yang seperti itu?
Suasana menyenangkan dalam proses
belajar sangat membantu terserapnya berbagai informasi. Peter Kline menulis
dalam bukunya The Everyday Genius: “Belajar akan efektif jika dilakukan dalam
suasana menyenangkan. Daniel Golman juga menyatakan: “Belajar dalam kondisi
yang menyenangkan empat kali lebih cepat dalam menyerap informasi”, terbukti
berbagai ide akan muncul ketika berada dalam keadaan tenang dan juga
menyenangkan. Pernahkah Anda mendapatkan ide-ide segar dan belum pernah
terbayangkan oleh Anda sebelumnya ketika Anda ‘bertapa’ di toilet?
Jika kita dalam keadaan senang dan
gembira maka neuron-neuron otak berkembang lebih banyak. Jika Anda dalam
keadaan marah, stres dan depresi, maka dendrit-dendrit dalam neuron-neuron otak
Anda segera mati, sehingga timbulah perasaan lemah tak berdaya bahkan putus asa
pada diri Anda. Untuk itu hindarilah keadaan yang tidak menyenangkan, stres,
dan depresi, selain membuat otak Anda menjadi lemah, daya tahan tubuh Anda juga
menurun, dan lebih bernahaya lagi usia Anda menjadi pendek.
Jika Anda sayang diri dan anak-anak
didik Anda dan ingin melihat anak didik Anda dapat menyerap berbagai informasi
pelajaran yang Anda berikan, buatlah suasana yang menyenagkan ketika Anda
mengajar. Berikut ini beberapa kiat yang mungkin bisa Anda ikuti dan
kembangkan:
·
Usahakan jangan segera masuk kelas
ketika suasana hati Anda dalam keadaan yang tidak menyenangkan, diamlah
sejenak, ambil nafas dalam-dalam lalu katakan pada diri Anda: “ini bukan
saatnya saya bersedih, seluruh permasalahan pasti ada jalan keluarnya”.
·
Mulailah masuk kelas dengan senyuman
yang paling menawan yang Anda miliki dan tebarkan pandangan Anda kesetiap
bagian kelas, sehingga seluruh anak didik Anda merasa diperhatikan.
·
Jika anak-anak didik Anda dalam keadaan
ribut, tidak tenang atau lelah, jangan segera memulai pelajaran, ceritakan
terlebih dahulu beberapa cerita lucu, buat salah satu anak menjadi peraga
cerita tertentu.
·
Selingilah pelajaran Anda dengan game
atau nyanyian yang lucu, sesekali buatlah lagu bersama anak-anak, atau
menjadikan nama-nama mereka sebagai bagaian dari lagu).
·
Buatlah kelompok di antara anak dan
buatlah lomba dalam menyelesaikan masalah pelajaran yang ingin Anda sampaikan.
·
Buatlah suasana kelas yang santai, baik
posisi duduk, maupun kebebasan anak untuk duduk, baik di kursi atau di atas
lantai.
·
Ikutilah tertawa bersama anak-anak dan
tidak perlu jaga image alias jaim.
3.
Jadikan diri Anda sebagai motivator
Apa
jadinya jika kita menjadi robot? Hidup ini pastilah kehilangan makna, tak lagi
indah, tak ada lagi fenomena yang menarik, karena hidup kita berjalan sesuai
dengan program yang diinstal kepada kita, jika demikian, maka manusia akan
kehilangan eindahannya. Tuhan maha tahu akan semua itu, karena itu, Tuhan hanya
memberikan berbagai potensi pada diri manusia dan selanjutnya menyerahkan pada
manusia itu sendiri guna mengelola potensi yang dimilikinya, digunakan untuk
tunduk pada penciptaannya atau menentangnya, tapi bagaimana pun hal tersebut
membuat hidup dan kebaikan akan bermakna.
Tapi
seringkali kita tidak belajar dari apa yang dilakukan Tuhan pada makhluk-Nya,
kita memandang anak-anak dihadapan kita hanyalah onggokan daging ditambah
dengan pandangan mata mereka yang polos menjadi tambahan argumentasi yang
membenarkan anggapan kita, bahwa kita harus sebanyak mungkin menginstal
informasi yang kita miliki, dengan demikian kelak anak tersebut akan menjadi
pintar dan dapat hidup sukses. Padahal tahukah kita bahwa 100 % anggapan kita
tersebut tidak benar.
Ikutilah
kisah berikut ini:
Torrey
Hadden penulis buku terlaris abad ini menceritakan kembali kisahnya tentang
seorang anak autis, anak 9 tahun tersebut bukan hanya tidak memiliki kontak
dengan dunia luar, bahkan pernah melakukan tindakan yang mengerikan, ia pernah
membakar teman sebayanya dan menyaksikan dengan tanpa emosi hingga hangus
terbakar. Anak tersebut dikirimkan ke sekolah yang dikembangkan Torrey Hadden.
Di sekolah baru tersebut, hampir setiap hari ia memukuli anak-anak lain dan
setelah itu berdiri disudut ruangan tanpa bergerak waktu yang lama. Sekiranya
Anda menjadi Torrey Hadden apa yang akan Anda lakukan?
Kisah
itu mengajarkan satu hal pada kita, bahwa motivasi dapat merubah seorang anak
menjadi manusia lain, mampu mengembangkan diri dan mengaktualisasikan potensi
yang mereka miliki dan semua terjadi justru dengan kekuatan yang ada dalam diri
mereka sendiri.
Sungguh,
jika Anda seorang guru, bukanlah tugas Anda memenuhi otak murid Anda dengan
informasi-informasi yang Anda miliki, tapi motivasilah murid untuk mencari
sendiri informasi yang dibutuhkan. Anda tingal mengajarkan cara mencari
informasi tersebut. Karena dengan cara ini ingatan anak akan jauh lebih kuat
terhadap informasi tersebut. Biarakan juga anak mengembagkan kreatifitas yang
mereka miliki, doronglah mereka untuk selalu melakukan hal-hal yang menarik dan
berarti karena hal tersebut mereka akan merasakan keberadaan mereka dihargai.
Berikut
ini beberapa tips praktis memotivasi anak:
1.
Sebelum Anda memulai belajar, buatlah
tulisan besar di papan tulis misalnya: “I am The Best”ajak anak-anak untuk
membaca tulisan tersebut dengan suara sekeras-kerasnya.
2.
Ajaklah anak-anak Anda ke ruang
perpustakaan, berilah beberapa persoalan yang sesuai dengan tingkat anak,
bagilah dalam beberapa kelompok, mintalah mereka untuk mencari penyelesaian
dari buku-buku yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar