Sobat, apa yang Anda baca di blog saya ini merupakan tulisan dari Uni Dina Sulaeman. Tulisan ini pernah dimuat di jurnal The Global Review, Mei 2013. Mengingat ada beberapa hal penting yang harus diketahui banyak orang tentang agenda terselubung dari IMF dan Bank Dunia, maka saya pun tertarik memuatnya di blog ini. Silahkan membaca semoga bermanfaat.
(1) BRICS: Kekuatan Ekonomi
Baru?
Krisis ekonomi di Eropa dan AS
yang telah melemahkan Dollar menjadi momen penting bagi lima negara kapitalis
plat merah (kapitalisme yang dikontrol oleh negara/pemerintah, bukan oleh
swasta), yaitu Brazil, Russia, India, China dan South Africa (BRICS). Pada
bulan Maret 2013 lalu, pemimpin kelima negara itu berkumpul di Durban, Afrika
Selatan dan menyepakati dibentuknya lembaga keuangan sejenis IMF. BRICS memiliki
kekuatan dari sisi jumpah penduduk, yaitu 40% dari populas dunia, dan GDP
mereka adalah seperlima dari total GDP dunia. Bahkan Bank Dunia pun menyatakan,
dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, pertumbuhan ekonomi dunia
bergantung pada BRICS yang memiliki 27% kekuatan daya beli dunia. Selain itu
45% tenaga kerja global berada di negara-negara BRICS. Mereka juga memiliki
cadangan mata uang asing sebesar 4,4 Trilyun Dollar.
Waktulah yang akan membuktikan
apakah rencana BRICS ini akan terwujud. Namun setidaknya, ini telah menjadi
ancaman besar bagi kekuatan kapitalis Barat yang sejak tahun 1944 telah
mendominasi ekonomi dan keuangan internasional melalui dua institusinya, IMF
dan Bank Dunia, serta pemaksaan penggunaan dollar sebagai mata uang utama dalam
perdagangan dan keuangan dunia.
IMF adalah semacam lembaga yang
mengumpulkan cadangan dana dalam jumlah besar untuk kemudian dipinjamkan kepada
negara-negara yang membutuhkannya. Meskipun dana itu dikumpulkan dari semua
negara anggotanya, namun keputusan IMF sangat didominasi oleh AS. Ketika hampir
semua negara berkembang memiliki hutang kepada IMF dan Bank Dunia, AS pun
mengontrol segala kebijakan politik dan ekonomi di negara-negara tersebut.
Hutang yang menjerat bangsa-bangsa telah menyeret mereka ke jurang kemiskinan
dan ketidakberdayaan. Mantan Presiden Brazil, Luis Ignacio Silva pernah
mengatakan, “Perang Dunia III telah dimulai, perang yang sunyi… Perang ini
sedang merobek Brazil, Amerika Latin, dan hampir semua negara Dunia Ketiga.
Yang tewas bukanlah tentara, tetapi anak-anak; jutaan orang memang tidak
terluka, tetapi mereka kehilangan pekerjaan; jembatan-jembatan tidak diedakkan,
tetapi pabrik-pabrik, sekolah, rumah sakit, dan semua kegiatan ekonomi menjadi
bangkrut. Ini adalah perang antara AS melawan Amerika Latin dan Dunia Ketiga.
Ini adalah perang melawan hutang luar negeri, AS menggunakannya sebagai
senjata utama; senjata yang lebih mematikan daripada bom atom, dan lebih
merusak daripada sinar laser.”
(2) KTT G-20: Perhelatan Mewah
Para Elit
Pada bulan September
2009, rakyat AS dan dunia menyaksikan sebuah even yang menguras biaya 20 juta
Dollar. Kantor-kantor di kota Pittsburgh diliburkan. Sekolah-sekolah ditutup.
Banyak ruas jalan yang diblokir sehingga mengganggu akses warga. Dan, 12.000
polisi dan tentara didatangkan ke kota itu dengan menggunakan pakaian militer
sangat lengkap, seolah akan berperang. Even itu adalah KTT G-20, yaitu kelompok
20 negara: Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India,
Indonesia, Italia, Jepang, México, Russia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Korea,
Turki, Inggris, AS, dan Uni Eropa.
Para demonstran antikapitalisme
mendatangi kota Pittsburg untuk berdemonstrasi, namun para polisi bersikap
keras kepada mereka. Para demonstran ditembaki dengan gas air mata dan
ditangkapi. Seolah, pelanggaran HAM sah saja, asal para elit dunia yang sedang
bersidang dalam KTT G-20 aman dan nyaman.
Pada tahun 2010, KTT G-20 kembali
digelar. Kali ini di Toronto dan menjadi sebuah even yang membutuhkan operasi
pengamanan paling besar dan paling mahal dalam sejarah Kanada. Total dana yang
dihabiskan, adalah 858 juta dollar Kanada. Pada tahun 2012, para pemimpin
negaranegara G-20 itu berkumpul di sebuah resort mewah di pantai Los Cabos.
Entah berapa jumlah dana yang dikeluarkan pemerintah Meksiko. Namun yang jelas,
para demonstran anti G-20 dilarang mendekati Los Cabos sehingga mereka hanya bisa
menggelar aksi demo, diskusi, dan workshop di La Paz.
Dan tahun ini, 2013, KTT G-20
akan digelar di Rusia, pada bulan September. Ada sesuatu yang unik di sini.
Bukankah G-20, IMF, dan Bank Dunia berada di satu jalur, sementara Rusia seolah
berada di jalur lain, dengan menyepakati berdirinya lembaga tandingan IMF
bersama anggota BRICS? Bagaimana sebenarnya posisi masing-masing?
(3) KTT G-20: Upaya
Menyelamatkan IMF
Sejarah G-20 berawal dari
pertemuan tertutup lima negara besar, AS, Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang
di Gedung Putih, Washington D.C. pada tahun 1973 untuk membicarakan masalah
keuangan dunia. Pada tahun 1975, barulah kelima negara (G-5) ini secara terbuka
mengadakan pertemuan di Prancis. Pada tahun 1976, G-5 ditambah Italia dan
Canada (membentuk G-7) bertemu di San Juan, Puerto Rico. Pada tahun 1998, Rusia
pun diajak bergabung, dan terbentuklah G-8 yang mengadakan KTT di Birmingham,
Inggris. Isu yang ditangani waktu itu adalah krisis finansial di Asia dan
Rusia.
Para anggota G-8 kemudian merasa
bahwa keputusan-keputusan yang mereka buat akan memiliki pengaruh yang lebih
besar seandainya melibatkan negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar di
dunia. Itulah yang melatarbelakangi dibentuknya G-20, yang beranggotan G-8 plus
11 negara berkekuatan ekonomi besar plus Uni Eropa, sehingga kelompok ini
menghimpun hampir 90% PDB (Produk Domestik Bruto) dunia, 80% total perdagangan
dunia, dan dua per tiga penduduk dunia. Pertemuan perdana G-20 berlangsung
tahun 1999 di Berlin. Indonesia masuk ke dalam G-20 karena bila dilihat
dari PDB-nya, Indonesia berada pada urutan ke-15 dunia.
Website G-20 menyebutkan bahwa
tujuan pertemuan para pemimpin negara-negara G-20 adalah untuk untuk mengatasi
krisis ekonomi saat ini dan menetapkan kerangka kerja untuk mencegah krisis
keuangan di masa depan, sambil berupaya mengamankan pertumbuhan global yang
seimbang dan berkesinambungan, serta mereformasi arsitektur pemerintahan
global.
Namun, dalam setiap KTT G-20
keputusan konkrit yang dicapai adalah: membantu IMF. Dalam KTT di Toronto (Juni
2010) dicapai kesepakatan untuk ‘menyempurnakan reformasi lembaga-lembaga
keuangan internasional’ (yang dimaksud tentu saja antara lain IMF). Pada KTT di
Seoul (November 2010) disepakati untuk ‘memodernisasi IMF’. Dalam KTT di Cannes
(2011), para pemimpin negara G-20 sepakat untuk menjamin agar IMF terus memiliki
sumber dana agar tetap dapat berperan sistemik terhadap negara-negara
anggotanya. Di KTT Los Cabos (2012), keputusan yang diambil lebih blak-blakan
lagi: berkomitmen untuk memperkuat kemampuan IMF dalam memberikan kredit hingga
456 milyar dollar.
Dalam KTT Los Cabos itulah,
beberapa negara menyetujui memberikan ‘pinjaman’ kepada IMF, antara lain
Singapura memberi pinjaman sebesar 4 miliar dollar AS, sementara Malaysia,
Thailand dan Filipina, masing-masing 1 miliar dollar AS. Bahkan, Indonesia pun bersedia
menyumbang 1 M dollar kepada IMF. Namun, laporan lain menyebutkan bahwa ada
dana misterius sebesar 25 Trilyun yang diserahkan Indonesia kepada IMF.
Kesediaan Indonesia memberikan
pinjaman uang kepada IMF jelas ironis. Gubernur BI, Darmin Nasution, menyatakan
bahwa bantuan Indonesia itu adalah untuk ‘menjaga pandangan bangsa-bangsa lain
kepada Indoenesia satu-satunya anggota G20 dari ASEAN’ . Dalam logika Darmin, ‘masa
Indonesia yang paling besar voting share di ASEAN tidak membantu IMF?’
Jusman Dalle, seorang analis
ekonomi, menyebut fenomena ini sebagai bentuk ‘diplomasi narsistik’. Dengan
memberikan dana ke IMF, pemerintah Indonesia seolah ingin pamer agar diakui
dunia sebagai negara yang kuat ekonominya. Padahal, bila dipandang dari sisi
‘diplomasi harga diri’, sebenarnya justru Indonesia sedang dibodoh-bodohi.
Ketika IMF ‘jaya’, Indonesia dipaksa mengambil berbagai kebijakan yang justru
memperburuk kondisi ekonominya. Kini ketika IMF kekurangan uang, malah
Indonesia dimintai sumbangan.
(4) Sejarah IMF dan Bank Dunia
IMF dan World Bank (Bank
Dunia/WB) adalah dua anak kembar yang dihasilkan melalui kesepakatan Bretton
Wood 1944. Menurut klaim negara-negara penggagasnya, IMF didirikan untuk
menjamin stabilitas ekonomi global dan menyediakan dana pinjaman untuk
negara-negara yang mengalami penurunan ekonomi supaya negara-negara tersebut
bisa memulihkan kembali perekonomiannya. Sementara itu, WB didirikan untuk
membantu negara-negara dalam membangun infrastruktur seperti jalan atau
bendungan. Diharapkan, bila berbagai sarana publik telah dibangun, kemiskinan
bisa tereliminasi.
Namun kenyataannya, seperti telah
disebutkan di atas, pada hakikatnya IMF dan WB adalah lembaga makelar riba.
Untuk bisa meminjam dana ke WB, sebuah negara harus menjadi anggota IMF. Setiap
anggota IMF diwajibkan memberikan uang sesuai dengan kuota yang ditetapkan bagi
mereka masing-masing. Kuota ditetapkan berdasarkan kekuatan ekonomi
masing-masing negara, antara lain dilihat dari PDB, keterbukaan ekonominya, dan
cadangan devisanya. Dua puluh lima persen dari jumlah uang itu harus dibayar
dalam bentuk mata uang kuat (seperti dollar, euro, yen, atau poundsterling),
dan sisanya dibayar dalam mata uang masing-masing negara. Uang yang terkumpul
itulah yang kemudian dipinjamkan kepada negara-negara yang membutuhkannya.
Otoritas di IMF terdiri dari dua
bagian. Pertama, Dewan Gubernur, dimana semua negara anggota menempatkan satu
wakilnya. Namun, Dewan mendelegasikan hampir seluruh kekuasaannya kepada Dewan
Direktur Eksekutif. Direktur Eksekutif inilah yang menangani oprasional IMF.
Kuota sebuah negara akan
berdampak pada kekuatan suaranya dalam pengambilan keputusan di IMF dan
seberapa besar mereka boleh meminjam uang kepada IMF. Pemilik kuota terbesar
dalam IMF adalah AS, disusul oleh Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis (G-5).
Tentu saja, merekalah yang mendominasi pengambilan keputusan di IMF dan WB.
Masing-masing negara itu memiliki wakil (direktur) dalam Dewan Eksekutif IMF.
Sementara itu, 19 direktur yang lain dipilih di antara 150-an negara anggota
lainnya. Presiden WB biasanya warga negara AS dan dipilih melalui parlemen AS.
Sementara itu Managing Director IMF adalah orang Eropa.
Kekuatan dominasi G-5 terlihat
jelas ketika sebuah negara meminjam uang kepada IMF. IMF baru mengucurkan dana
pinjaman bila negara itu telah melaksanakan syarat-syarat yang ditetapkan IMF:
mencabut subsidi, meningkatkan pajak, liberalisasi pasar, dan meningkatkan suku
bunga. Semua persyaratan itu ujung-ujungnya hanya menguntungkan
negara-negara pemegang saham terbesar di IMF dan WB (yaitu negara-negara G-5).
Misalnya, ketika subsidi barang-barang dicabut dan dilakukan liberalisasi
pasar, maka produk dari negara-negara majulah yang akan membanjiri pasar. Atau,
IMF memerintahkan privatisasi perusahaan-perusahaan negara; yang artinya
sahamnya dijual kepada pihak swasta yang memiliki uang, yang tak lain para
kapitalis dari negara-negara maju. IMF juga memerintahkan dilakukannya liberalisasi
finansial, sehingga memberi kelonggaran pada keluar-masuknya aliran modal
internasional.
Inilah yang terjadi di Indonesia
setelah menerima pinjaman IMF tahun 1998: kepemilikan asing di perbankan
nasional dibuka, sehingga pihak asing bisa memiliki hingga 99 persen saham di
bank-bank nasional. Akibatnya, kini sebagian besar bank nasional berskala besar
pada saat ini dimiliki oleh pemegang asing, kecuali bank BUMN dan beberapa bank
besar nasional.
Hakikat IMF yang tak lain lembaga
rente dan tak peduli pada nasib rakyat negara yang dihutanginya semakin tampak
ketika, di antaranya, memerintahkan pencabutan subsidi kesehatan, dan uang yang
dihemat dari pencabutan subsidi itu harus digunakan untuk mencicil pembayaran
hutang ke IMF. IMF tidak peduli pada nasib rakyat kecil yang kehilangan akses
perlindungan kesehatan; yang penting hutang wajib dibayar.
(5) Mbalelo-nya Uni Soviet
[dan Rusia]
Kondisi ini sebenarnya sudah
dideteksi oleh Uni Soviet sejak awal rencana pembentukan IMF dan WB. Pada tahun
1943, pemerintah AS mengajukan proposal untuk membentuk sebuah sistem keuangan
internasional. Saat itu Perang Dunia II tengah berlansgung. Semua negara Sekutu
diundang untuk mendiskusikan hal ini, termasuk Uni Soviet.
Pada April 1944, AS dan Inggris
sepakat untuk mengeluarkan Joint Statement para pakar yang berisi
rencana pembentukan IMF. Soviet diminta menyetujui statemen itu meski tidak
ambil bagian dalam penyusunannya. Disepakati pula bahwa pada 1 Juli 1944 akan
diadakan konferensi moneter internasional di Bretton Woods, AS. Presiden
Roosevelt memberitahukan hal ini kepada Uni Soviet sebelum mengirim undangan ke
negara-negara lain.
Sejak awal konferensi, delegasi
Soviet sudah memrotes AS terkait kuotanya di IMF. Soviet minta diberi jatah
kuota sebesar 1 juta dollar; serta dan menolak ketentuan bahwa 25% dari jumlah
itu dibayar dengan emas. Soviet pun sangat berperan dalam penyusunan Article IV
section 10 Piagam IMF, yang berbunyi, “Bank dan pejabatnya tidak boleh
mencampuri urusan politik internal nagara anggota; keputusan mereka tidak boleh
terpengaruhi oleh karakter politik negara anggota. Setiap keputusan yang
diambil hanya berdasarkan pertimbangan politik yang relevan.”
Akhirnya Soviet bersedia
menandatangani Final Act of The Conference. Segera setelah PD II usai,
Soviet meminta pinjaman dari AS sebesar 10 milyar dollar dan tidak dikabulkan.
Setelah itulah, Soviet menolak
meratifikasi Perjanjian Bretton Woods (pembentukan IMF dan WB). Bahkan, dalam
sidang majelis umum PBB tahun 1947, wakil dari Soviet mengatakan bahwa
institusi Bretton Woods adalah perpanjangan tangan Wall Street; bahwa WB adalah
sebuah instrumen politik bagi sebuah kekuasaan besar (yang dimaksud tentu saja
negara-negara kapitalis Barat).
Pernyataan Uni Soviet ini semakin
hari semakin terbukti. Namun, pada tahun 1991, Uni Soviet bubar dan
negara-negara pecahannya, termasuk Rusia, beramai-ramai mengajukan permintaan
keanggotaan kepada IMF. Selain untuk mendapatkan dana pinjaman dari IMF,
keanggotaan di IMF juga menjadi syarat untuk mendapatkan pinjaman dari WB.
Khusus untuk Rusia, Barat memberikan perhatian lebih karena keinginan untuk
meliberalisasi Rusia, dilandasi kekhawatiran bahwa bila ekonomi Rusia tidak
membaik, akan membawa Rusia ke arah ekstrimitas dan potensi perang nuklir.
Namun, resep liberalisasi ala IMF tidak membawa hasil positif bagi perekonomian
Rusia. Bahkan, pada Agustus 1998, terjadi krisis moneter hebat. Rusia yang
disebut-sebut sebagai penerima paket bantuan terbesar dalam sejarah IMF,
akhirnya malah jatuh ke dalam krisis finansial dan politik yang terburuk
sepanjang sejarahnya (Davies and Woods, 1999). Situasi ini terjadi pada masa
kepresidenan Boris Yeltsin. Saat itu, Rusia mengalami depresi ekonomi, tingkat
kemiskinan melonjak tajam, dari 1,5% era Soviet menjadi 39–49% pada pertengahan
1992. Korupsi dan kriminalitas pun merajalela.
Tahun 1998, IMF kembali
mengucurkan dana sebesar 22.6 milyar dollar kepada Rusia. Namun, tahun
berikutnya, Yeltsin mundur dan digantikan oleh Vladimir Putin. Putin melakukan
berbagai reformasi, meski dikritik oleh Barat sebagai tindakan yang tidak
demokratis dan menyalahi instruksi liberalisasi ala IMF. Hasilnya, Rusia
kembali stabil dan mengalami kemajuan.
Kini ketika IMF kelabakan untuk
mengatasi krisis ekonomi di Eropa, Rusia malah menawarkan diri untuk membeli
saham IMF sebesar 10 milyar Dollar. Rusia dan China dikabarkan memiliki
cadangan devisa berkali-kali lipat dibanding dana yang dimiliki IMF. Direktur
IMF, Christine Lagarde, telah mengumumkan bahwa kuota negara-negara BRICS telah
meningkat dari 10,71% menjadi 14,18% . Rusia sendiri telah naik tingkat,
menjadi negara urutan ke-9 pemilik saham/kuota terbesar di IMF. Dan terakhir, BRICS bahkan sepakat untuk
mendirikan lembaga tandingan IMF.
(6) Penutup
Rusia telah membuktikan bahwa
justru dengan menolak resep liberalisasi ala IMF, kekuatan ekonominya malah
semakin meningkat. Jalinan kerjasama di antara negara-negara BRICS telah
memunculkan kekuatan ekonomi baru yang mampu menghadang dominasi ekonomi Barat.
Artinya, Indonesia sebenarnya memiliki alternatif sekutu. Selama ini, Indonesia
telah memilih bersekutu dengan Barat, namun hasilnya hanyalah belitan hutang
yang tak ada habisnya, kemiskinan yang merajalela, dan tergadainya kekayaan
alam. Tentu sudah waktunya bagi Indonesia untuk bergerak dan berubah. Bila
melihat pengalaman Iran yang puluhan tahun diembargo Barat, terbukti bahwa
tanpa Barat pun Iran bisa meraih kemajuan ekonomi, sains, dan teknologi.
Seperti diketahui publik, Iran menjalin kerjasama erat dengan Rusia, China, dan
negara-negara Amerika Latin.
Namun tentu saja, perlu
diwaspadai pula bahwa bahwa asas untung-rugi akan tetap berlaku dalam negosiasi
dengan BRICS. Mereka pastilah akan membela kepentingan nasional masing-masing.
Karena itu, diplomasi harga diri yang mengedepankan kepentingan nasional harus
tetap dipegang teguh oleh para negosiator dan diplomat Indonesia. Kerjasama
yang benar adalah yang menguntungkan kedua pihak. Jangan sampai terjadi,
berupaya keluar dari mulut harimau, tetapi malah jatuh ke mulut buaya.[]
Kabar baik Allah yang Maha Kuasa telah begitu setia kepada saya dan seluruh keluarga saya untuk menggunakan perusahaan pinjaman ibu Emily untuk mengubah situasi keuangan hidup saya untuk kehidupan yang lebih baik dan lebih stabil sehingga sekarang saya memiliki bisnis sendiri di kotaNama saya Nur Khomariyah dari kota Sidoarjo, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu. Emily karena membantu saya dengan pinjaman yang baik setelah saya menderita di tangan pemberi pinjaman palsu yang menipu saya karena uang saya tanpa menawarkan saya pinjaman, saya memerlukan pinjaman selama 2 tahun terakhir untuk memulai bisnis saya sendiri di kota Sidoarjo tempat saya tinggal dan saya jatuh ke tangan perusahaan palsu di India yang telah menipu saya dan tidak menawarkan pinjaman kepada saya dan saya sangat frustrasi karena saya kehilangan semua uang saya ke perusahaan palsu di India, karena saya berutang kepada bank dan teman-teman saya dan saya tidak punya orang untuk dituju, sampai suatu hari teman setia saya menelepon Slamet Raharjo setelah membaca kesaksiannya tentang bagaimana dia mendapat pinjaman dari ibu perusahaan pinjaman Emily, jadi saya harus menghubungi Slamet Raharjo dan dia mengatakan kepada saya dan meyakinkan saya untuk menghubungi ibu emily bahwa dia adalah ibu yang baik dan saya harus memanggil keberanian dan saya menghubungi ibu emily perusahaan dan secara mengejutkan, pinjaman saya diproses dan disetujui dan dalam waktu 2 jam pinjaman saya dipindahkan ke akun saya dan saya sangat terkejut bahwa ini adalah keajaiban dan saya harus bersaksi tentang ibu pekerjaan yang baik Emilyjadi saya akan menyarankan semua orang yang membutuhkan pinjaman untuk menghubungi ibu perusahaan pinjaman Emily melalui email: emilygregloancompany@gmail.com. atau whatsapp +447860370916 dan saya meyakinkan Anda bahwa Anda akan bersaksi seperti yang telah saya lakukan dan Anda juga dapat menghubungi saya untuk informasi lebih lanjut tentang Mother Emily melalui saya email: nurkhomariyah1989@gmail.com dan Anda masih dapat menghubungi teman saya Nur Syarah yang memperkenalkan saya kepada Ms. Margaret melalui email: slametraharjo211989@gmail.comsemoga Tuhan terus memberkati dan mendukung ibu Emily yang telah mengubah kehidupan finansial saya.
BalasHapusKabar baik Allah yang Maha Kuasa telah begitu setia kepada saya dan seluruh keluarga saya untuk menggunakan perusahaan pinjaman ibu Emily untuk mengubah situasi keuangan hidup saya untuk kehidupan yang lebih baik dan lebih stabil sehingga sekarang saya memiliki bisnis sendiri di kotaNama saya Nur Khomariyah dari kota Sidoarjo, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu. Emily karena membantu saya dengan pinjaman yang baik setelah saya menderita di tangan pemberi pinjaman palsu yang menipu saya karena uang saya tanpa menawarkan saya pinjaman, saya memerlukan pinjaman selama 2 tahun terakhir untuk memulai bisnis saya sendiri di kota Sidoarjo tempat saya tinggal dan saya jatuh ke tangan perusahaan palsu di India yang telah menipu saya dan tidak menawarkan pinjaman kepada saya dan saya sangat frustrasi karena saya kehilangan semua uang saya ke perusahaan palsu di India, karena saya berutang kepada bank dan teman-teman saya dan saya tidak punya orang untuk dituju, sampai suatu hari teman setia saya menelepon Slamet Raharjo setelah membaca kesaksiannya tentang bagaimana dia mendapat pinjaman dari ibu perusahaan pinjaman Emily, jadi saya harus menghubungi Slamet Raharjo dan dia mengatakan kepada saya dan meyakinkan saya untuk menghubungi ibu emily bahwa dia adalah ibu yang baik dan saya harus memanggil keberanian dan saya menghubungi ibu emily perusahaan dan secara mengejutkan, pinjaman saya diproses dan disetujui dan dalam waktu 2 jam pinjaman saya dipindahkan ke akun saya dan saya sangat terkejut bahwa ini adalah keajaiban dan saya harus bersaksi tentang ibu pekerjaan yang baik Emilyjadi saya akan menyarankan semua orang yang membutuhkan pinjaman untuk menghubungi ibu perusahaan pinjaman Emily melalui email: emilygregloancompany@gmail.com. atau whatsapp +447860370916 dan saya meyakinkan Anda bahwa Anda akan bersaksi seperti yang telah saya lakukan dan Anda juga dapat menghubungi saya untuk informasi lebih lanjut tentang Mother Emily melalui saya email: nurkhomariyah1989@gmail.com dan Anda masih dapat menghubungi teman saya Nur Syarah yang memperkenalkan saya kepada Ms. Margaret melalui email: slametraharjo211989@gmail.comsemoga Tuhan terus memberkati dan mendukung ibu Emily yang telah mengubah kehidupan finansial saya.
BalasHapus