Kamis, 30 Oktober 2014

MISTERI TUJUH

Sebelum saya menguraikan tentang cara mendidik anak pada usia tujuh tahun pertama, kedua, dan ketiga, alangkah baiknya kita mengkaji misteri angka tujuh ini. Pembahasan angka tujuh begitu menarik bagi saya. Karena angka tujuh memiliki angka keramat yang disebut berulang-ulang dalam Qur’an. Bilangan tujuh adalah bilangan penuh makna, dan penuh rahasia yang dipilih Allah untuk menjelaskan kekuasaan-Nya.

Dalam Qur’an ada beberapa ayat yang mencantumkan angka tujuh dalam ungkapan firman Allah Swt, diantaranya Allah berfirman: telah menghiasi dunia ini dengan tujuh langit (QS: al-Naba’:12). Lalu langit tersebut dihiasi oleh Allah dengan tujuh bintang-bintang (QS: al-Hijr:16). Allah menghiasi tanah lapang dengan tujuh bumi (QS: al-Thalaq:12), lalu bumi ini dihiasinya dengan tujuh lautan (QS: Luqman:27). Selanjtnya Allah menghiasi nereka dengan tujuh tingkatan, lalu dilengkapi pula dengan tujuh pintu (QS al-Hijr:14). Selanjutnya Allah menghiasi Qur’an dengan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang sebagai ayat pembukaan (QS: al-Hijr:84) dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya uraikan lebih lanjut mengingat kajian ini akan dibahas secara spesifik dalam kajian irfan atau tasawuf.

Ada beberapa fase perkembangan anak. Untuk kali ini kita akan membaginya dengan serba tujuh, maksudnya mendidik anak pada usia tujuh tahun pertama, tujuh tahun kedua, dan tujuh tahun ketiga. Tujuh tahun pertama lebih dikenal dengan sebutan tahun si raja kecil. Ya, mereka laksana raja yang dalam kehidupannya harus dilayani dengan sepenuh hati. Tidak berlebihan jika tujuh tahun pertama ini kita sebut juga “golden age”. 

Benjamin S. Bloom, dalam, stability and change in human characteristic membuktikan bahwa 50% kemampuan belajar seseorang ditentukan dalam empat tahun pertamanya. 30% yang lainnya dikembangkan dalam usia ke delapan. Hal-hal lain yang seseorang pelajari sepanjang hidup akan dibangun di atas dasar tersebut.


Apa yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik anaknya di usia emas ini? Orangtua seharusnya:
1.      Bebas membiarkan mereka bertindak, berkeinginan, memberikan perintah, bermain dan bersenang-senang.
2.      Memperhatikan mereka dengan santun, penuh kelembutan dan kasih sayang.
3.      Ciumlah mereka sebanyak-banyaknya.
4.      Berusaha untuk memenuhi keinginan mereka
5.      Memberikan jawaban-jawaban positif atas semua pertanyaan mereka.
6.      Tidak perlu melakukan upaya disiplin yang kaku dan keras.
7.      Memberikan contoh yang baik dalam bersikap, karena anak-anak terdidik dengan mengambil contoh dari orangtua dalam lingkungan keluarga, selain lingkungan dan guru di sekolah.
8.      Anak harus dibiarkan bebas dalam bergerak.
9.      Anak harus dibiarkan bebas dalam mencari pengalaman dengan inderanya, seperti mendengar, mencium, berbicara, meraba, berlsri, berteriak, melempar, dan mencari sesuatu yang baru.

  Orangtua menjaga agar kebutuhan anak akan kebebasannya terpenuhi tanpa melupakan keamaanan dan keselamatan anak.
11.  Menemani anak dengan kuantitas pertemuan yang lebih banyak.
12.  Hindari ungkapan “jangan” terhadap anak.

Jika orangtua sukses mendidik anak-anaknya di usia tujuh tahun pertama, maka hasil yang luar biasa didapat orangtua adalah sebagai berikut:
1.      Berkembangnya bakat terpendam dalam diri anak. Dengan adanya kebebasan, anak akan leluasa menuangkan apa yang berkembang dalam otaknya tanpa harus ragu dan takut terhadap pihak luar yang melarang tindakannya. Dengan demikian bakat anak akan terungkap tinggal orang tua mengarahkan bakat anak-anaknya dengan cara yang benar.

2.      Timbulnya kepercayaan anak terhadap orang tua. Hal ini terjadi karena orangtua tanggap terhadap kebutuhan anaknya secara jasmani dan rohani.

3.      Kesiapan anak dalam menghadapi masa ketaatan tujuh tahun kedua. Jika Anda mempunyai  rasa percaya terhapa anak Anda dan juga sebaliknya, maka anak akan senantiasa mendengarkan nasihat, saran-saran dan menerima dengan lapang dada larangan-larangan yang masuk akal dari Anda.

4.      Ketenangan psikologis anak selama masa berikutnya. Sebagaimana sabdanya Nabi Muhammad Saw: betapa baiknya masa kecil seorang anak yang dilalui dengan penuh aktivitas dan kenakalan sehingga pada masa dewasanya akan menjadi orang yang tenang dan sabar.

Pernahkah Anda mengalami kesulitan dalam mengatasi permasalahan pada usia tujuh tahun pertama anak Anda? Jika pernah, maka hal ini disebabkan beberapa faktor. Yaitu:
1.      Kesibukan Anda yang luar biasa padatnya dengan beraktivitas di luar rumah sehingga tidak ada waktu luang untuk bercengkrama dengan keluarga dan tidak ada waktu untuk memenuhi keinginan anak Anda.
2.      Ketidaktahuan Anda terhadap apa yang diinginkan anak dan apa yang seharusnya mereka lakukan. Seorang psikolog ternama Amerika Dr. A. Joseph Bursteln dalam bukunya “Dr Bursteln’s book on children” menerangkan bahwa 99% permasalahan yang dialami anak berusia 0-7 tahun berasal dari kesalahan orangtua dan guru. Saya pikir ungkapan ini benar karena permasalah yang dihadapi anak berasal dari pola asuh di rumah dan pola didik yang salah di sekolah (Paud, TK dan SD). Rumah dan sekolah seperti penjara yang mengekang kebebasan anak untuk bertindak dan beraktivitas yang di dalamnya juga bermain. Kesalahan fatal yang dilakukan orangtua dan guru dalam mendidik anak-anak pada usia emas ini dengan cara menuruti perintah guru atau orang tua untuk selalu “tenang” dan “diam”.

Selanjutnya kita masuk pada fase kedua dimana masa tujuh tahun berikutnya (tujuh tahun kedua). Pada fase ini kita namakan fase pra remaja. Ada beberapa hal yang dialami pada anak-anak Anda di fase ke dua ini, yaitu:
1.      Perubahan dalam bentuk fisik.
2.      Anak-anak Anda  mampu membedakan hal yang baik dan buruk dalam batas tertentu.
3.      Kewajiban mendengarkan dan mentaati perintah dari Anda sebagi orangtua.
4.      Tahapan yang palin penting dalam pengembangan daya pikir, ketajaman ingatan dan kecepatan dalam bertindak.
Apa yang seharusnya dilakukan Anda  sebagai orangtua? Yang harus Anda lakukan adalah:
1.      Awal pembelajaran tentang tanggungjawab.
2.      Punishment diperbolehkan dalam alasan dan batas tertentu.
3.      Penerapan disiplin, pengawan, dan kemandirian.

4.      Pendidikan adab dan akhlak pada anak Anda karena sangat dominan pengaruhnya untuk kelanjutan tahapan berikutnya.
Lau masa tujuh tahun ketiga. Fase ini kita namakan dengan fase masa remaja. Di masa remaja ini ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan orang tua, diantaranya:

1.      Pada masa ini anak-anak Anda mempunyai ciri dominan perasaan yang peka.
2.      Anak-anak anda akan memasuki wilayah proses pencarian dan penentuan figur yang dibarengi dengan proses pencarian jati diri mereka.
3.      Masa yang paling penting untuk menunjukkan eksistensi dan benefiditas kualitas manusia.
4.      Mereka membutuhkan pengakuan eksistensi mereka di tengah masyarakat maupun keluarga, sehingga pendapat mereka perlu di dengar oleh orang tua.
5.      Anak-anak Anda akan memasuki masa pelaksana dari tangung jawab akan tugas-tugas harian sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat.

Tahukah Anda empat peristiwa penting dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw yang berkenaan dengan eksistensi remaja? Adapun empat peristiwa penting yang berkenaan dengan eksistensi remaja itu anatara lain:

1.      Ali bin Abi Thalib, pemuda yang rela mati untuk tidur di ranjang rasul untuk mengelabui kaum kafir Qurays.
2.      Mush’ab bin Umar, diplomat muda yang diutus rasul ke Madinah sebelum hijrah.
3.      Itab bin Usaid, gubernur Mekkah yang pertama, dimana pada waktu itu usianya masih 21 tahun setelah penakluka kota Mekkah.
4.      Usama bin Zaid, panglima perang Islam berusia 18 tahun untuk menyerang Imperium Romawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar