Sebelum
saya menguraikan tentang cara mendidik anak pada usia tujuh tahun pertama,
kedua, dan ketiga, alangkah baiknya kita mengkaji misteri angka tujuh ini. Pembahasan
angka tujuh begitu menarik bagi saya. Karena angka tujuh memiliki angka keramat
yang disebut berulang-ulang dalam Qur’an. Bilangan tujuh adalah bilangan penuh
makna, dan penuh rahasia yang dipilih Allah untuk menjelaskan kekuasaan-Nya.
Dalam
Qur’an ada beberapa ayat yang mencantumkan angka tujuh dalam ungkapan firman Allah
Swt, diantaranya Allah berfirman: telah menghiasi dunia ini dengan tujuh langit
(QS: al-Naba’:12). Lalu langit tersebut dihiasi oleh Allah dengan tujuh
bintang-bintang (QS: al-Hijr:16). Allah menghiasi tanah lapang dengan tujuh
bumi (QS: al-Thalaq:12), lalu bumi ini dihiasinya dengan tujuh lautan (QS:
Luqman:27). Selanjtnya Allah menghiasi nereka dengan tujuh tingkatan, lalu
dilengkapi pula dengan tujuh pintu (QS al-Hijr:14). Selanjutnya Allah menghiasi
Qur’an dengan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang sebagai ayat pembukaan (QS:
al-Hijr:84) dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya uraikan lebih lanjut
mengingat kajian ini akan dibahas secara spesifik dalam kajian irfan atau
tasawuf.
Ada
beberapa fase perkembangan anak. Untuk kali ini kita akan membaginya dengan
serba tujuh, maksudnya mendidik anak pada usia tujuh tahun pertama, tujuh tahun
kedua, dan tujuh tahun ketiga. Tujuh tahun pertama lebih dikenal dengan sebutan
tahun si raja kecil. Ya, mereka laksana raja yang dalam kehidupannya harus
dilayani dengan sepenuh hati. Tidak berlebihan jika tujuh tahun pertama ini
kita sebut juga “golden age”.
Benjamin
S. Bloom, dalam, stability and change in
human characteristic membuktikan bahwa 50% kemampuan belajar seseorang
ditentukan dalam empat tahun pertamanya. 30% yang lainnya dikembangkan dalam
usia ke delapan. Hal-hal lain yang seseorang pelajari sepanjang hidup akan
dibangun di atas dasar tersebut.
Apa
yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik anaknya di usia emas ini? Orangtua
seharusnya:
1.
Bebas membiarkan mereka bertindak, berkeinginan,
memberikan perintah, bermain dan bersenang-senang.
2.
Memperhatikan mereka dengan santun,
penuh kelembutan dan kasih sayang.
3.
Ciumlah mereka sebanyak-banyaknya.
4.
Berusaha untuk memenuhi keinginan mereka
5.
Memberikan jawaban-jawaban positif atas
semua pertanyaan mereka.
6.
Tidak perlu melakukan upaya disiplin
yang kaku dan keras.
7.
Memberikan contoh yang baik dalam
bersikap, karena anak-anak terdidik dengan mengambil contoh dari orangtua dalam
lingkungan keluarga, selain lingkungan dan guru di sekolah.
8.
Anak harus dibiarkan bebas dalam
bergerak.
9.
Anak harus dibiarkan bebas dalam mencari
pengalaman dengan inderanya, seperti mendengar, mencium, berbicara, meraba,
berlsri, berteriak, melempar, dan mencari sesuatu yang baru.
Orangtua
menjaga agar kebutuhan anak akan kebebasannya terpenuhi tanpa melupakan
keamaanan dan keselamatan anak.
11. Menemani
anak dengan kuantitas pertemuan yang lebih banyak.
12. Hindari
ungkapan “jangan” terhadap anak.
Jika
orangtua sukses mendidik anak-anaknya di usia tujuh tahun pertama, maka hasil
yang luar biasa didapat orangtua adalah sebagai berikut:
1.
Berkembangnya bakat terpendam dalam diri
anak. Dengan adanya kebebasan, anak akan leluasa menuangkan apa yang berkembang
dalam otaknya tanpa harus ragu dan takut terhadap pihak luar yang melarang
tindakannya. Dengan demikian bakat anak akan terungkap tinggal orang tua
mengarahkan bakat anak-anaknya dengan cara yang benar.
2.
Timbulnya kepercayaan anak terhadap
orang tua. Hal ini terjadi karena orangtua tanggap terhadap kebutuhan anaknya
secara jasmani dan rohani.
3.
Kesiapan anak dalam menghadapi masa
ketaatan tujuh tahun kedua. Jika Anda mempunyai rasa percaya terhapa anak Anda dan juga
sebaliknya, maka anak akan senantiasa mendengarkan nasihat, saran-saran dan
menerima dengan lapang dada larangan-larangan yang masuk akal dari Anda.
4.
Ketenangan psikologis anak selama masa
berikutnya. Sebagaimana sabdanya Nabi Muhammad Saw: betapa baiknya masa kecil
seorang anak yang dilalui dengan penuh aktivitas dan kenakalan sehingga pada
masa dewasanya akan menjadi orang yang tenang dan sabar.
Pernahkah
Anda mengalami kesulitan dalam mengatasi permasalahan pada usia tujuh tahun
pertama anak Anda? Jika pernah, maka hal ini disebabkan beberapa faktor. Yaitu:
1.
Kesibukan Anda yang luar biasa padatnya dengan
beraktivitas di luar rumah sehingga tidak ada waktu luang untuk bercengkrama
dengan keluarga dan tidak ada waktu untuk memenuhi keinginan anak Anda.
2.
Ketidaktahuan Anda terhadap apa yang
diinginkan anak dan apa yang seharusnya mereka lakukan. Seorang psikolog
ternama Amerika Dr. A. Joseph Bursteln dalam bukunya “Dr Bursteln’s book on
children” menerangkan bahwa 99% permasalahan yang dialami anak berusia 0-7
tahun berasal dari kesalahan orangtua dan guru. Saya pikir ungkapan ini benar
karena permasalah yang dihadapi anak berasal dari pola asuh di rumah dan pola
didik yang salah di sekolah (Paud, TK dan SD). Rumah dan sekolah seperti
penjara yang mengekang kebebasan anak untuk bertindak dan beraktivitas yang di
dalamnya juga bermain. Kesalahan fatal yang dilakukan orangtua dan guru dalam
mendidik anak-anak pada usia emas ini dengan cara menuruti perintah guru atau
orang tua untuk selalu “tenang” dan “diam”.
Selanjutnya
kita masuk pada fase kedua dimana masa tujuh tahun berikutnya (tujuh tahun
kedua). Pada fase ini kita namakan fase pra remaja. Ada beberapa hal yang
dialami pada anak-anak Anda di fase ke dua ini, yaitu:
1.
Perubahan dalam bentuk fisik.
2.
Anak-anak Anda mampu membedakan hal yang baik dan buruk dalam
batas tertentu.
3.
Kewajiban mendengarkan dan mentaati
perintah dari Anda sebagi orangtua.
4.
Tahapan yang palin penting dalam
pengembangan daya pikir, ketajaman ingatan dan kecepatan dalam bertindak.
Apa
yang seharusnya dilakukan Anda sebagai
orangtua? Yang harus Anda lakukan adalah:
1.
Awal pembelajaran tentang tanggungjawab.
2.
Punishment diperbolehkan dalam alasan
dan batas tertentu.
3.
Penerapan disiplin, pengawan, dan
kemandirian.
4.
Pendidikan adab dan akhlak pada anak
Anda karena sangat dominan pengaruhnya untuk kelanjutan tahapan berikutnya.
Lau
masa tujuh tahun ketiga. Fase ini kita namakan dengan fase masa remaja. Di masa
remaja ini ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan orang tua,
diantaranya:
1.
Pada masa ini anak-anak Anda mempunyai
ciri dominan perasaan yang peka.
2.
Anak-anak anda akan memasuki wilayah
proses pencarian dan penentuan figur yang dibarengi dengan proses pencarian
jati diri mereka.
3.
Masa yang paling penting untuk
menunjukkan eksistensi dan benefiditas kualitas manusia.
4.
Mereka membutuhkan pengakuan eksistensi
mereka di tengah masyarakat maupun keluarga, sehingga pendapat mereka perlu di
dengar oleh orang tua.
5.
Anak-anak Anda akan memasuki masa
pelaksana dari tangung jawab akan tugas-tugas harian sebagai makhluk sosial
yang bermasyarakat.
Tahukah
Anda empat peristiwa penting dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw yang
berkenaan dengan eksistensi remaja? Adapun empat peristiwa penting yang
berkenaan dengan eksistensi remaja itu anatara lain:
1.
Ali bin Abi Thalib, pemuda yang rela
mati untuk tidur di ranjang rasul untuk mengelabui kaum kafir Qurays.
2.
Mush’ab bin Umar, diplomat muda yang
diutus rasul ke Madinah sebelum hijrah.
3.
Itab bin Usaid, gubernur Mekkah yang
pertama, dimana pada waktu itu usianya masih 21 tahun setelah penakluka kota
Mekkah.
4.
Usama bin Zaid, panglima perang Islam
berusia 18 tahun untuk menyerang Imperium Romawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar