Kamis, 30 Oktober 2014

MELIHAT TUHAN


Seorang laki-laki bernama Dzi’lib Al-Yamani bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib sa., “Dapatkah anda melihat Tuhanmu, wahai Amiral Mukminin ?”

Imam Ali sa. menjawab, “Akankah aku menyembah sesuatu yang tidak aku lihat ?”

“Bagaimana anda melihat-Nya ? “ tanya orang itu lagi.

Maka Imam pun memberikan penjelasannya : “ Dia (Allah) takkan tercapai dengan penglihatan mata, tetapi oleh mata hati yang penuh dengan hakikat keimanan. Ia dekat dengan segalanya tanpa sentuhan. Jauh tanpa jarak. Berbicara tanpa harus berfikir sebelumnya. Berkehendak tanpa perlu berencana. Berbuat tanpa memerlukan tangan. Lembut tapi tidak tersembunyi. Besar tapi tidak teraih. Melihat tapi tidak bersifat indrawi. Maha Penyayang tapi tidak bersifat lunak. Wajah-wajah merunduk dihadapan keagungan-Nya. Jiwa-jiwa bergetar karena ketakutan terhadap-Nya.

Dalam satu riwayat yang lain, ada seseorang bertanya, “Wahai Ali, bagaimanakah wajah Allah ?”

Tanpa berkata apa-apa Imam Ali segera mengumpulkan kayu-kayu lalu membakarnya, lalu Imam Ali bertanya pada orang tersebut “ Bagaimana wajah api?”

Dalam riwayat yg lain lagi :

Seseorang datang menemui Imam Ja’far ash-Shadiq sa. dan berkata, “Wahai putra Rasulullah, tunjukkan kepada saya siapa Allah itu sebenarnya ? sebab, banyak sekali orang yang berdebat dan berbicara kepada saya mengenai ‘Tuhan’ dan mereka membuat saya heran dan kebingungan.”

Imam ash-Shadiq sa. berkata, “Selama ini pernahkah kapal yang kau naiki pecah ditengah laut, sementara disana tidak ada kapal lain yang dapat menolongmu dan engkau juga tidak bisa berenang, sehingga engkau tak dapat mencapai ketepian ?”

Dia menjawab, “ Hal itu pernah terjadi pada saya, wahai putra Rosul.”

Beliau as. berkata lagi, “Apakah pada situasi seperti itu hatimu tertuju pada suatu tempat dan terlintas dalam benakmu bahwa mungkin saja ada sesuatu atau satu wujud yang dapat menyelamatkanmu tanpa sebab apapun ?”

Dia berkata, “Benar, wahai putra Rasul semua yang anda katakan itu pernah saya alami.”

Beliau berkata, “Suatu wujud yang hatimu tertuju padanya, yang dapat menyelamatkanmu dari petaka yang menimpamu, itulah Tuhan, Itulah Allah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar