Seorang anak yang lahir akan memberikan
kegairahan tersendiri bagi kehidupan orang tuanya dan kini keduanya sibuk
mengurusi anggota baru keluarganya. Orangtua menyertai anaknya selangkah demi
selangkah dan membantunya. Mereka berusaha mengajarinya bagaimana berjalan,
berbicara, menyampaikan keinginannya dan ribuan hal lain yang perlu
dikuasainya. Tapi sebagian orang tua lalai akan masalah ini bahwa selain
mengajarkan banyak hal kepada anaknya, semestinya sejak awal mereka juga
mengajarkan pendidikan agama kepadanya. Mungkin banyak orangtua yang tidak
tahu bahwa anak-anak mengenal Tuhan dari fitrahnya dan memiliki kecenderungan
untuk berbuat baik.
Sejatinya, dalam diri anak-anak telah ada
kecenderungan kepada agama dan spiritual. Cukup dengan menghilangkan segala
bentuk kendala yang menghalangi kecenderungan ini, maka pada waktu itu
substansi kemanusiaan di segala bidang akan berkembang. Imam Ali as ketika
menasihati anaknya Hasan as mengatakan, "Hati anak seperti tanah kosong.
Benih apa saja yang engkau tanam di situ akan tumbuh. Saya mulai mendidikmu
sejak kecil, sebelum hatimu keras dan pikiranmu sibuk." Dengan demikian,
orang tua yang sadar hendaknya berusaha menumbuhkembangkan fitrah penghambaan
kepada Allah dalam diri anak-anak dan tidak merasa cukup dengan sederet tradisi
lahiriah di bidang agama.
Dalam pandangan Islam, mengajarkan
pengertian-pengertian agama kepada anak-anak merupakan masalah yang penting.
Berdasarkan bimbingan Nabi dan Ahli Bait as, pengajaran pengertian-pengertian
agama telah dimulai sejak bayi lahir dan pendidikan di masa kanak-kanak menjadi
dasar bagi pendidikan di masa yang lain. Imam Ali as menyebut alasan terpenting
dimulainya pendidikan di masa kanak-kanak dikarenakan hati dan jiwa mereka
masih suci dan polos. Hal itu dikarenakan hati mereka belum terpolusi oleh dosa
dan keburukan. Imam Ali as berkeyakinan bahwa dalam hati anak-anak yang masih
suci ini dengan mudah menanam benih iman dan kejujuran, begitu juga benih
kekufuran, kebohongan dan riya.
Para pakar pendidikan memiliki penafsiran yang
sama mengenai pendidikan agama sejak kanak-kanak ini dengan nama Pendidikan
Periode Anak. Mereka mengumpamakan jiwa anak-anak dengan tunas kecil yang masih
fleksibel dan mudah mengikuti apa yang diajarkan kepadanya. Bila anak-anak
ternyata berjalan di jalan yang salah dan menyimpang, maka dengan sedikit upaya
tunas muda ini bisa segera diperbaiki. Tapi bila telah menjadi pohon yang besar
dan kokoh, memperbaiki kemiringannya menjadi sangat sulit. Dari sini, pemikiran
yang tidak benar bila tertanam dalam diri manusia dan telah bercampur dengan
jiwanya, maka akan sangat sulit untuk menghilangkannya dari halaman hatinya.
Sesuai dengan ajaran Islam, keluarga sebagai
sumber pendidikan agama pertama bagi anak-anak memiliki peran menentukan dalam
mengarahkan fitrah dan spiritual manusia yang tertanam dalam diri manusia.
Sementara pada saat yang sama, pendidikan merupakan tanggung jawab paling
indah, sekaligus paling berat bagi orang tua dan pendidik, maka pada derajat
yang paling pertama, sangat penting bagi orang tua untuk mengamalkan ajaran
agama terlebih dahulu. Karena perilaku agamis mereka tidak pernah lepas dari
pandangan anak-anak. Bahkan menurut para psikolog, anak-anak mengerti bagaimana
kedua orang tuanya melakukan ajaran agama dengan serius atau hanya sekadar
terlepas dari kewajiban.
Di sisi lain, kedua orangtua mengerti bahwa
pemahaman anak-anak akan pengertian-pengertian agama tidak sama dengan orang
dewasa. Pada awalnya, mereka merasakan dan memahami sesuai dengan kapasitas
otaknya terkait masalah-masalah agama dan dari sana ia membentuk pandangan
dunianya sendiri. Oleh karenanya, penting untuk mendidik perasaan keagamaan
anak-anak sejak awal dan setelah itu memperkenalkan mereka metode rasional.
Menurut ajaran Islam, usia terbaik untuk mendidik
nilai-nilai agama dan memunculkan rasa keberagamaan pada anak-anak adalah dua
tahun. Banyak riwayat menekankan masalah ini, dimana setelah dua tahun ketika
anak telah mampu berbicara, ia harus diajari zikir "Laa Ilaaha
Illallaah", sehingga tauhid merasuk dalam fitrahnya dan perlahan-lahan
membangunkannya. Setelah itu mengajarinya zikir shalawat dan cinta kepada Nabi
dan Ahli Baitnya as.
Sejak berusia tiga tahun, anak-anak memiliki
kecenderungan tinggi akan doa dan kasidah keagamaan. Mereka senang dan
menikmati pembacaan doa yang dilakukan secara berkelompok. Hal ini sangat
membantu pertumbuhan rasa keberagamaan anak-anak dan untuk itu mereka bisa
diajak untuk ikut dalam shalat berjamaah, munajat dan doa bersama. Dengan
demikian mereka bisa menyaksikan dari dekat kegembiraan, tangisan dan munajat
kepada Allah. Mengajak anak mengikuti acara-acara keagamaan ini sangat
berpengaruh membangkitkan rasa keberagamaan anak-anak. Jangan lupa membacakan
kisah-kisah agamis untuk anak-anak juga sangat berpengaruh di usia tiga tahun.
Pada usia empat tahun, fitrah mencari Tuhan dalam
diri anak mengalami pertumbuhan secara bertahap disertai rasa ingin tahu. Pada
masa-masa ini anak begitu diliputi rasa ingin tahu yang besar. Anak-anak dalam
usia ini punya banyak pertanyaan dalam benaknya tentang hakikat dunia dan yang
paling penting adalah pencipta dunia. Pada tahapan ini merupakan usia alami
anak-anak untuk menerima pengertian Tuhan. Anak berusia empat tahun menilai
ayahnya sebesar dan sepenting Tuhan. Pengertiannya tentang Tuhan seperti
ayahnya, hanya saja lebih besar. Ia bahkan terkadang menganggap Tuhan sebagai
bagian dari anggota keluarganya.
Dalam usia empat tahun, pemahaman anak tentang
masalah agama sangat terbatas. Itulah mengapa mereka senantiasa bertanya
tentang banyak hal di pelbagai bidang untuk memperluas informasi yang
dimilikinya. Segala pertanyaan yang diajukan menunjukkan kecenderungannya untuk
mengumpulkan informasi keagamaan bersama argumentasinya. Hal ini menjadi poin
positif bagi kedua orang tua dan pendidiknya. Tapi yang lebih penting lagi
adalah bagaimana menjawabnya. Karena jawaban yang diberikan kepadanya harus
benar dan memuaskannya. Tidak terlalu penting untuk memberikan jawaban yang
benar-benar argumentatif kepada anak di usia ini. Karena fondasi pemahaman
rasionalnya belum tumbuh dengan baik. Tapi jawaban yang diberikan harus jelas
dan memuaskan, sehingga hatinya yang suci itu dapat menerimanya.
Dengan semakin meningkatnya usia anak, rasa
keberagamannya semakin tampak dan pada usia enam tahun semakin jelas perilaku
keberagamannya. Seorang anak usia enam tahun memiliki rasa penghambaan kepada
Tuhan dan meminta untuk berhubungan serta berbicara dengan Tuhan. Sekalipun
permintaannya masih sebatas materi seperti meminta mainan, makanan dan pakaian.
Perlahan-lahan pada usia tujuh tahun anak memiliki pemahaman yang lebih baik
tentang Tuhan dan memahami-Nya lebih kuat dan tinggi dari orang tuanya. Di usia
ini ia merasakan kebutuhan yang lebih untuk mengenal Tuhan. Itulah mengapa
Rasulullah Saw bersabda, "Ketika anak kalian telah berusia enam tahun,
ajak mereka melakukan shalat dan ketika menginjak usia tujuh tahun, kalian
harus lebih menekankan masalah ini."
Para guru agama meyakini bahwa waktu terbaik
untuk mengajari pendidikan agama di masa kanak-kanak di saat mereka sedang
gembira. Mengajarkan nilai-nilai ketika mereka mengantuk dan stres bukan hanya
tidak berdampak, tapi mungkin saja secara kejiwaan ia melakukan perlawanan.
Anak-anak ketika menerima hadiah atau lagi bepergian terlihat gembira. Kondisi
yang tepat menyebabkan anak-anak tanpa melakukan perlawanan atau hanya sedikit
melakukan perlawanan atas nilai-nilai yang diajarkan kepadanya. Memuji
anak-anak ketika melakukan perbuatan baik juga sangat baik bagi pendidikan
agama mereka, tapi harus dikatakan bahwa faktor perilaku orang tua adalah yang
paling penting dan paling berpengaruh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar