Kamis, 30 Oktober 2014

PENDIDIKAN AGAMA UNTUK ANAK

Seorang anak yang lahir akan memberikan kegairahan tersendiri bagi kehidupan orang tuanya dan kini keduanya sibuk mengurusi anggota baru keluarganya. Orangtua menyertai anaknya selangkah demi selangkah dan membantunya. Mereka berusaha mengajarinya bagaimana berjalan, berbicara, menyampaikan keinginannya dan ribuan hal lain yang perlu dikuasainya. Tapi sebagian orang tua lalai akan masalah ini bahwa selain mengajarkan banyak hal kepada anaknya, semestinya sejak awal mereka juga mengajarkan pendidikan agama kepadanya. Mungkin banyak orangtua yang tidak tahu bahwa anak-anak mengenal Tuhan dari fitrahnya dan memiliki kecenderungan untuk berbuat baik.

Sejatinya, dalam diri anak-anak telah ada kecenderungan kepada agama dan spiritual. Cukup dengan menghilangkan segala bentuk kendala yang menghalangi kecenderungan ini, maka pada waktu itu substansi kemanusiaan di segala bidang akan berkembang. Imam Ali as ketika menasihati anaknya Hasan as mengatakan, "Hati anak seperti tanah kosong. Benih apa saja yang engkau tanam di situ akan tumbuh. Saya mulai mendidikmu sejak kecil, sebelum hatimu keras dan pikiranmu sibuk." Dengan demikian, orang tua yang sadar hendaknya berusaha menumbuhkembangkan fitrah penghambaan kepada Allah dalam diri anak-anak dan tidak merasa cukup dengan sederet tradisi lahiriah di bidang agama.

Dalam pandangan Islam, mengajarkan pengertian-pengertian agama kepada anak-anak merupakan masalah yang penting. Berdasarkan bimbingan Nabi dan Ahli Bait as, pengajaran pengertian-pengertian agama telah dimulai sejak bayi lahir dan pendidikan di masa kanak-kanak menjadi dasar bagi pendidikan di masa yang lain. Imam Ali as menyebut alasan terpenting dimulainya pendidikan di masa kanak-kanak dikarenakan hati dan jiwa mereka masih suci dan polos. Hal itu dikarenakan hati mereka belum terpolusi oleh dosa dan keburukan. Imam Ali as berkeyakinan bahwa dalam hati anak-anak yang masih suci ini dengan mudah menanam benih iman dan kejujuran, begitu juga benih kekufuran, kebohongan dan riya.

Para pakar pendidikan memiliki penafsiran yang sama mengenai pendidikan agama sejak kanak-kanak ini dengan nama Pendidikan Periode Anak. Mereka mengumpamakan jiwa anak-anak dengan tunas kecil yang masih fleksibel dan mudah mengikuti apa yang diajarkan kepadanya. Bila anak-anak ternyata berjalan di jalan yang salah dan menyimpang, maka dengan sedikit upaya tunas muda ini bisa segera diperbaiki. Tapi bila telah menjadi pohon yang besar dan kokoh, memperbaiki kemiringannya menjadi sangat sulit. Dari sini, pemikiran yang tidak benar bila tertanam dalam diri manusia dan telah bercampur dengan jiwanya, maka akan sangat sulit untuk menghilangkannya dari halaman hatinya.

Sesuai dengan ajaran Islam, keluarga sebagai sumber pendidikan agama pertama bagi anak-anak memiliki peran menentukan dalam mengarahkan fitrah dan spiritual manusia yang tertanam dalam diri manusia. Sementara pada saat yang sama, pendidikan merupakan tanggung jawab paling indah, sekaligus paling berat bagi orang tua dan pendidik, maka pada derajat yang paling pertama, sangat penting bagi orang tua untuk mengamalkan ajaran agama terlebih dahulu. Karena perilaku agamis mereka tidak pernah lepas dari pandangan anak-anak. Bahkan menurut para psikolog, anak-anak mengerti bagaimana kedua orang tuanya melakukan ajaran agama dengan serius atau hanya sekadar terlepas dari kewajiban.

Di sisi lain, kedua orangtua mengerti bahwa pemahaman anak-anak akan pengertian-pengertian agama tidak sama dengan orang dewasa. Pada awalnya, mereka merasakan dan memahami sesuai dengan kapasitas otaknya terkait masalah-masalah agama dan dari sana ia membentuk pandangan dunianya sendiri. Oleh karenanya, penting untuk mendidik perasaan keagamaan anak-anak sejak awal dan setelah itu memperkenalkan mereka metode rasional.


Menurut ajaran Islam, usia terbaik untuk mendidik nilai-nilai agama dan memunculkan rasa keberagamaan pada anak-anak adalah dua tahun. Banyak riwayat menekankan masalah ini, dimana setelah dua tahun ketika anak telah mampu berbicara, ia harus diajari zikir "Laa Ilaaha Illallaah", sehingga tauhid merasuk dalam fitrahnya dan perlahan-lahan membangunkannya. Setelah itu mengajarinya zikir shalawat dan cinta kepada Nabi dan Ahli Baitnya as.

Sejak berusia tiga tahun, anak-anak memiliki kecenderungan tinggi akan doa dan kasidah keagamaan. Mereka senang dan menikmati pembacaan doa yang dilakukan secara berkelompok. Hal ini sangat membantu pertumbuhan rasa keberagamaan anak-anak dan untuk itu mereka bisa diajak untuk ikut dalam shalat berjamaah, munajat dan doa bersama. Dengan demikian mereka bisa menyaksikan dari dekat kegembiraan, tangisan dan munajat kepada Allah. Mengajak anak mengikuti acara-acara keagamaan ini sangat berpengaruh membangkitkan rasa keberagamaan anak-anak. Jangan lupa membacakan kisah-kisah agamis untuk anak-anak juga sangat berpengaruh di usia tiga tahun.

Pada usia empat tahun, fitrah mencari Tuhan dalam diri anak mengalami pertumbuhan secara bertahap disertai rasa ingin tahu. Pada masa-masa ini anak begitu diliputi rasa ingin tahu yang besar. Anak-anak dalam usia ini punya banyak pertanyaan dalam benaknya tentang hakikat dunia dan yang paling penting adalah pencipta dunia. Pada tahapan ini merupakan usia alami anak-anak untuk menerima pengertian Tuhan. Anak berusia empat tahun menilai ayahnya sebesar dan sepenting Tuhan. Pengertiannya tentang Tuhan seperti ayahnya, hanya saja lebih besar. Ia bahkan terkadang menganggap Tuhan sebagai bagian dari anggota keluarganya.

Dalam usia empat tahun, pemahaman anak tentang masalah agama sangat terbatas. Itulah mengapa mereka senantiasa bertanya tentang banyak hal di pelbagai bidang untuk memperluas informasi yang dimilikinya. Segala pertanyaan yang diajukan menunjukkan kecenderungannya untuk mengumpulkan informasi keagamaan bersama argumentasinya. Hal ini menjadi poin positif bagi kedua orang tua dan pendidiknya. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana menjawabnya. Karena jawaban yang diberikan kepadanya harus benar dan memuaskannya. Tidak terlalu penting untuk memberikan jawaban yang benar-benar argumentatif kepada anak di usia ini. Karena fondasi pemahaman rasionalnya belum tumbuh dengan baik. Tapi jawaban yang diberikan harus jelas dan memuaskan, sehingga hatinya yang suci itu dapat menerimanya.

Dengan semakin meningkatnya usia anak, rasa keberagamannya semakin tampak dan pada usia enam tahun semakin jelas perilaku keberagamannya. Seorang anak usia enam tahun memiliki rasa penghambaan kepada Tuhan dan meminta untuk berhubungan serta berbicara dengan Tuhan. Sekalipun permintaannya masih sebatas materi seperti meminta mainan, makanan dan pakaian. Perlahan-lahan pada usia tujuh tahun anak memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan dan memahami-Nya lebih kuat dan tinggi dari orang tuanya. Di usia ini ia merasakan kebutuhan yang lebih untuk mengenal Tuhan. Itulah mengapa Rasulullah Saw bersabda, "Ketika anak kalian telah berusia enam tahun, ajak mereka melakukan shalat dan ketika menginjak usia tujuh tahun, kalian harus lebih menekankan masalah ini."

Para guru agama meyakini bahwa waktu terbaik untuk mengajari pendidikan agama di masa kanak-kanak di saat mereka sedang gembira. Mengajarkan nilai-nilai ketika mereka mengantuk dan stres bukan hanya tidak berdampak, tapi mungkin saja secara kejiwaan ia melakukan perlawanan. Anak-anak ketika menerima hadiah atau lagi bepergian terlihat gembira. Kondisi yang tepat menyebabkan anak-anak tanpa melakukan perlawanan atau hanya sedikit melakukan perlawanan atas nilai-nilai yang diajarkan kepadanya. Memuji anak-anak ketika melakukan perbuatan baik juga sangat baik bagi pendidikan agama mereka, tapi harus dikatakan bahwa faktor perilaku orang tua adalah yang paling penting dan paling berpengaruh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar