Sobat, ulasan di bawah ini merupakan komentar dari Bapak Syarif Hidayat wartawan senior ANTARA. Semoga bermanfaat.
Berbicara tentang pengaruh media
asing yang berdampak buruk dan menyesatkan bagi Indonesia, kita harus tahu
latar belakangnya. Opini dunia atau
informasi di dunia sekarang ini didominasi oleh barat yang dipimpin oleh
Amerika. Dan di Amerika sendiri sekitar 90% media dikuasai oleh hanya tujuh
orang pebisnis media Yahudi. Bisa dikatakan itu Zionis-lah, karena mereka
pendukung utama Israel, baik dari segi lobi maupun dari bantuan keuangan.
Dengan sendirinya, pengaruh opini dunia termasuk ke dalam Indonesia juga
negatif bagi Indonesia.
Media Indonesia lebih berat tugasnya dibandingkan media barat. Kalau media Barat itu hanya to inform (memberitahu) dan to entertain. Menghibur disini bisa dengan pemberitaan, perang dari Timur Tengah yang menurut mereka lucu, menunjukkan kebodohan-kebodohan negara-negara Arab. Itu entertain mereka dengan pemberitaan yang seperti itu dan banyak juga pemberitaan yang bias mereka, jadi inform memberitahu dan entertain.
Sementara Indonesia, disamping memberitahu juga ada mendidik (educate), juga menghibur, tapi dengan perkembangan Indonesia juga mengikuti jejak negara-negara barat, tumbuh konglomerasi, kepemilikan perusahan-perusahaan media, dengan sendirinya juga tugasnya bertambah, melindungi dan mendukung kepentingan sang pemilik modal, pemilik perusahaan. Dan juga bisa melindungi dan mendukung kepentingan pucuk pemodal yang memiliki media tersebut.
Saya langsung mengenai ISIS. ISIS kan pada awal bulan puasa lalu memproklamirkan kekhalifan yang dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Ini menurut analisa dari para pengamat barat antara lain Kevin Barret, itu yang sering menulis di Press TV Irak juga di beberapa media di Amerika, juga oleh Prof Michel Chossudovsky dari Global Research, bahwa ISIS itu hanya merupakan instrumen sekutu Barat di Timur Tengah, dengan tujuan: Memperpanjang hegenomi Barat bahkan mengembangkan hegenomi Barat di Timur Tengah. Sekarang dengan adanya ISIS itu dibagi-bagi wilayah Irak dan Suriah menjadi Kurdistan, Sunah, Syiah.
Sekutu Barat yang dipimpin Amerika bertujuan untuk melangkah lebih jauh mendahului bahwa umat Islam di dunia sedang merindukan adanya sistem khalifah, sistem khilafah yang dipimpin oleh khalifah.
Media di sini banyak yang tidak tahu, tokoh agama, kalangan pemerintahan, langsung termakan pemberitaan ISIS itu, bahwa ISIS itu bahkan tidak sesuai dengan tujuan Barat. Sepertinya itu tidak perlu dihiraukan bahwa itu rekayasa Barat bahwa contoh ISIS itu di dalam latar belakangnya merupakan kelompok yang memisahkan diri dari Al-Qaeda. Al- Qaeda sendiri tidak ada itu. Al-Qaeda itu adanya hanya di database komputer-komputer CIA. Ini menurut Menteri Luar Negeri Inggris Robin Cook.
Menurut penilaian Barat, badan-badan intelejen Barat, Al Badr itu bisa menarik seluruh teroris dunia yang jihadis. Sebetulnya para teroris itu bentukan juga kumpul di suatu tempat untuk membela kepentingan mereka. Ada satu sisi dari sisi Barat.
Sekarang dari Israel bahwa ISIS itu dibentuk untuk mendukung kepentingan Amerika dan Israel aktif pada sumber-sumber minyak di Irak. Irak produsen minyak terbesar juga. Jadi digunakan ISIS.
Sekarang kembali kepada media Indonesia yang disebut di awal, negatif dan menyesatkan. Saya sangat menyesal mainstream media itu menari di atas irama yang ditabuh oleh media barat, media Indonesia sebagian tidak mampu menampilkan pemberitaan yang mencerminkan bahwa Indonesia mayoritas berpenduduk muslim.
Media Indonesia lebih berat tugasnya dibandingkan media barat. Kalau media Barat itu hanya to inform (memberitahu) dan to entertain. Menghibur disini bisa dengan pemberitaan, perang dari Timur Tengah yang menurut mereka lucu, menunjukkan kebodohan-kebodohan negara-negara Arab. Itu entertain mereka dengan pemberitaan yang seperti itu dan banyak juga pemberitaan yang bias mereka, jadi inform memberitahu dan entertain.
Sementara Indonesia, disamping memberitahu juga ada mendidik (educate), juga menghibur, tapi dengan perkembangan Indonesia juga mengikuti jejak negara-negara barat, tumbuh konglomerasi, kepemilikan perusahan-perusahaan media, dengan sendirinya juga tugasnya bertambah, melindungi dan mendukung kepentingan sang pemilik modal, pemilik perusahaan. Dan juga bisa melindungi dan mendukung kepentingan pucuk pemodal yang memiliki media tersebut.
Saya langsung mengenai ISIS. ISIS kan pada awal bulan puasa lalu memproklamirkan kekhalifan yang dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Ini menurut analisa dari para pengamat barat antara lain Kevin Barret, itu yang sering menulis di Press TV Irak juga di beberapa media di Amerika, juga oleh Prof Michel Chossudovsky dari Global Research, bahwa ISIS itu hanya merupakan instrumen sekutu Barat di Timur Tengah, dengan tujuan: Memperpanjang hegenomi Barat bahkan mengembangkan hegenomi Barat di Timur Tengah. Sekarang dengan adanya ISIS itu dibagi-bagi wilayah Irak dan Suriah menjadi Kurdistan, Sunah, Syiah.
Sekutu Barat yang dipimpin Amerika bertujuan untuk melangkah lebih jauh mendahului bahwa umat Islam di dunia sedang merindukan adanya sistem khalifah, sistem khilafah yang dipimpin oleh khalifah.
Media di sini banyak yang tidak tahu, tokoh agama, kalangan pemerintahan, langsung termakan pemberitaan ISIS itu, bahwa ISIS itu bahkan tidak sesuai dengan tujuan Barat. Sepertinya itu tidak perlu dihiraukan bahwa itu rekayasa Barat bahwa contoh ISIS itu di dalam latar belakangnya merupakan kelompok yang memisahkan diri dari Al-Qaeda. Al- Qaeda sendiri tidak ada itu. Al-Qaeda itu adanya hanya di database komputer-komputer CIA. Ini menurut Menteri Luar Negeri Inggris Robin Cook.
Menurut penilaian Barat, badan-badan intelejen Barat, Al Badr itu bisa menarik seluruh teroris dunia yang jihadis. Sebetulnya para teroris itu bentukan juga kumpul di suatu tempat untuk membela kepentingan mereka. Ada satu sisi dari sisi Barat.
Sekarang dari Israel bahwa ISIS itu dibentuk untuk mendukung kepentingan Amerika dan Israel aktif pada sumber-sumber minyak di Irak. Irak produsen minyak terbesar juga. Jadi digunakan ISIS.
Sekarang kembali kepada media Indonesia yang disebut di awal, negatif dan menyesatkan. Saya sangat menyesal mainstream media itu menari di atas irama yang ditabuh oleh media barat, media Indonesia sebagian tidak mampu menampilkan pemberitaan yang mencerminkan bahwa Indonesia mayoritas berpenduduk muslim.